Catatan Kecil di Ultah Anies Baswedan

Pagi itu, di ruang kerja Gubernur DKI Jakarta, beberapa anak muda ‘mengintai’ kelonggarakan waktu pimpinannya. Begitu merasa yakin Gubernur Anies sedang senggang, mereka merengsek ke dalam, berurutan dari yang pertama perempuan seraya mengucapkan: “Selamat ulang tahun, Pak Gub. Semoga panjang umur dan semoga selalu memberikan manfaat bagi warga Jakarta”.

“Kami bangga menjadi bagian dari tim Bapak”, kalimat tersebut secara terucap dari satunya, diucapkan sambil mata berkaca-kaca. Serempak diaminkan oleh yang lain. Suasana penuh haru dan penuh kedalaman rasa.

Ya,…mereka adalah tim kecil yang sehari-hari bekerja membantu Anies Baswedan. Mereka tak pernah tampak di publik, mereka terlatih bekerja dalam senyap.

Hari itu adalah ulang tahun Anies Baswedan yang ke-52, 7 Mei 2021. Mereka datang tanpa kado, tanpa kartu, tanpa kue tart; tetapi kedalaman kalimatnya membuat Anies tampak terharu.

Mesih terngiang jawaban Anies, merespon ucapan selamat yang datang bertubi kemudian: “Merayakan ulang tahun pada hakikatnya adalah merayakan perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Maka doakanlah ibu kami!” 

Kita semua tahu, betapa seorang Anies sangat mencintai ibunya. Hingga di saat ulang tahun ini, ibundanya-lah yang paling diingatnya. Bagi Anies, ibu adalah “jimat” yang musti keramatkan (dimuliakan).

Solid

Tim kecil itu begitu solid, berisi anak-anak muda nan cekatan serta penuh antusiasme. Dibalik kegemilangan seorang Anies Baswedan, merekalah yang sehari-hari bekerja dibalik layar membantu segala persiapan dan kelengkapan.

Satu hal yang tercatat dengan tegas, mereka solid! Setiap konflik dimanaj dengan rapih, hingga tak pernah berujung dengan friksi. Tak ada intrik, tak ada saling jegal. Semua bekerja satu arah, melayani dan saling menjaga.

Inilah kunci keberhasilan tim Anies Baswedan. Biasanya dalam sebuah tim, apalagi tim politik, selalu ada kompetisi internal. Intrik-intrik terjadi untuk saling menjatuhkan, demi mendapatkan atensi atasan. Tapi ini tak terjadi di tim itu. Kenapa? Karena semua bekerja dengan hati.

Mereka tahu, dan dipastikan tahu, pemimpinnya tidak sedang bekerja untuk meraih sebuah cita-cita. Pemimpinnya sedang bekerja untuk menjalankan sebuah misi: menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh warga Jakarta.

Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like