Mengenal Apa Itu Santri dan Cantrik

Editor Amir Sodikin

Oleh: M Chozin Amirullah*

KITA pasti familiar dengan istilah santri, istilah khusus untuk peserta didik (siswa) di pondok pesantren. Sama-sama siswa, kenapa musti dibedakan namanya?

Santri adalah anak-anak didik yang datang dari jauh untuk khusus belajar tentang ilmu agama dan tinggal di sebuah kompleks pendidikan yang disebut pesantren, di bawah asuhan para kyai.

Walaupun, seiring dunia pesantren semakin berkembang, kurikulum pendidikannya tidak hanya semata berisi pelajaran agama tetapi juga pelajaran umum.

Oleh karena itu, istilah santri bukan hanya bagi yang belajar ilmu agama saja, melainkan juga bagi yang belajar ilmu umum asalkan tinggal di pondok pesantren.

Dalam tradisi pesantren, konsep “santri”, sebenarnya tidak muncul begitu saja. Istilah santri bermula ketika seorang kyai kenamaan bernama Mohammad Besari (wafat 1747 M) mulai membuka pusat pendidikan agama Islam – yang kemudian disebut pondok pesantren – secara massal di desa Tegalsari, Jetis, Ponorogo sekitar tahun 1600-an.

Pusat pendidikan agama tersebut diberi nama Pesantren Gebang Tinatar. Gebang adalah sejenis nama pohon yang menjulang tinggi seperti palem, tinatar artinya pendidikan atau perkaderan.

Sistem pendidikan di Pesantren Gebang Tinatar mampu memesona kalangan elite bangsawan Mataram Islam di Solo. Anak-anak bangsawan banyak yang dikirim untuk nyantri di sana.

Sunan Pakubuwono II adalah salah satu anak raja yang pernah nyantri di situ. Selain itu, nama-nama besar seperti pujangga Ronggowarsito dan Pangeran Diponegoro juga tercatat pernah menjadi santri di Gebang Tinatar.

Banyaknya elite bangsawan yang nyantri menjadikan pesantren Gebang Tinatar sangat dikenal di seluruh Nusantara sehingga jumlah santrinya sangat banyak. Sebuah sumber mengatakan jumlah santrinya mencapa 16.000 orang.

Kecemerlangan pesantren Gebang Tinatar asuhan Kyai Besari ini menjadi tonggak baru berkembangnya sistem pendidikan keagamaan di Nusantara.

Pesantren Gebang Tinatar mengubah sistem pendidikan, terutama di keraton, dari yang semula kyai dipanggil ke keraton untuk mengajarkan agama, berubah menjadi keraton mengirimkan anak-anaknya kepada kyai di pesantren.

Oleh karena itu, pesantren Gebang Tinatar di Tegalsari dianggap sebagai pesantren tertua dan merupakan akar dari munculnya pesantren-pesantren di Nusantara.

Apa bedanya dengan cantrik?

Lalu, apakah sebelum Pesantren Gebang Tinatar belum pernah ada sistem pendidikan yang mensyaratkan siswanya bermukim di lokasi? Jawabannya ada.

Bahkan sebelum mendirikan Gebang Tinatar, Kyai Mohammad Besari sendiri belajar kepada Kyai Donopuro di Desa Sentono, tidak jauh dari Desa Tegalsari. Akan tetapi, sistem pendidikannya waktu itu bersifat padepokan, siswanya tidak terlalu banyak dan berasal dari lingkungan terdekat.

Siswanya juga belajar apa saja, tidak melulu belajar agama. Siswa bahkan dituntut untuk bekerja membantu kyai melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik, seperti bertani, merawat rumah, menjadi kurir barang dan sebagainya. Oleh karena itu disebutnya bukan santri melainkan “cantrik”.

Kata cantrik memang lebih berasosiasi pada sosok pembantu (asisten) bagi seorang guru, ksatria, pendeta, dhalang, ataupun pertapa. Sifatnya berguru secara personal berdasarkan pengalaman berinteraksi dengan ‘mentor’ dalam keseharian.

Konsekuensinya memang tidak ada kurikulum yang baku dan tidak ada kelas. Berbeda dengan santri yang orangtuanya membayar kepada pesantren (meskipun tidak selalu dalam bentuk uang), cantrik tidak pernah dituntut untuk membayar.

Jadi, orang yang menjadi cantrik tidak mengeluarkan uang untuk membayar sang guru tetapi mendedikasikan diri dan tenaganya untuk men-support pekerjaan-pekerjaan sang guru.

Lalu, apakah konsep cantrik sekarang ini masih ada? Jawabannya masih ada. Pun di sebuah pesantren yang sudah besar, biasanya ada beberapa ‘santri’ yang karena keterbatasan biayanya memilih jalan menjadi cantrik demi untuk mendapatkan ilmu.

Penulis sendiri pernah menjalani ini saat mondok di salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Karena keterbatasan biaya, penulis menjalani sebagai cantrik agar hidup di pesantren dan mendapatkan pendidikan agama yang setara dengan para santri dari berbagai penjuru Nusantara.

Ada kekurangan dan kelebihan menjadi cantrik. Kekurangannya, karena sebagian besar waktunya musti didedikasikan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik suruhan kyai, maka kesempatan untuk mengikuti kelas-kelas pembelajaran di pesantren secara langsung terbatas.

Namun demikian, ada kelebihan sebagai cantrik, yaitu memiliki kesempatan untuk interaksi langsung dengan kyai dan menimba secara langsung ilmu kehidupan dari sang kyai. Seorang cantrik mendapatkan privilege untuk mendapatkan mentorship langsung dari sang mentor (kyai) melalui interaksi keseharian. (*M Chozin Amirullah, Ketua Gerakan Turuntangan, pernah nyantrik dan menjadi santri)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Mengenal Apa Itu Santri dan Cantrik”, Dengan Link Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2021/04/28/151441571/mengenal-apa-itu-santri-dan-cantrik?page=all#page2.

Editor : Amir Sodikin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like