Tidak Ada Tempat Bagi Milenial Individualistik

Muhammad Chozin Amirullah

Ditulis oleh Nana dan Damar (Barisan News)

Ketua Gerakan Turun Tangan, M. Chozin Amirullah menjadi pembicara diskusi daring Gerakan Sumut Mengajar dengan tema Dedikasi Terbaik untuk Negeri, Kamis (14/5). Chozin menyampaikan akan adanya perubahan cara pandang generasi milenial tentang masa depan. 
Dia memulai penjelasan tentang perbedaan antara generasinya dengan generasi milenial. Dulu, anak muda dianggap sukses kalau punya harta banyak, jabatan tinggi, mobil dan rumah bagus. Imajinasi kesuksesan material ini begitu dipercaya, karena pada umumnya dulu, anak yang bisa bersekolah di kota itu punya latar belakang ekonomi terbatas.


“Itu imajinasi lama, dan sekarang era berubah. Rata-rata generasi milenial lahir dari keluarga yang bekal materinya cukup. Sehingga milenial sudah biasa, kendaraan itu biasa. Sekarang harta ternyata tidak menentukan, orang yang punya banyak harta juga, banyak yang tidak bahagia juga,” kata Chozin.


Ia pun menjelaskan capaian yang berubah di masa depan itu sendiri. “Imajinasi kesuksesan di masa depan itu kalau kita bisa memelopori sebuah gerakan yang mampu membantu sekian banyak orang. Membantu banyak orang itulah yang harus kita gairahkan secara bersama-sama. Karena saat ini, berjalan sendiri-sendiri sama dengan Anda menyiapkan diri untuk tereleminasi paling awal.”


Menurut Chozin, bukan zamannya lagi milenial berimajinasi kesuksesan dengan hal-hal yang materialistik. Apalagi jika harus sampai ekploitatif terhadap sumber daya alam. Milenial harus terdorong untuk berkontribusi terhadap lingkungan sosial, alam, bumi, dan planet.


“Capaian-capaian itu yang akan membuat kita bahagia di masa depan. Oleh karena itu sejak dini, mari wujudkan dan gabungkan diri kita ke dalam gerakan-gerakan sosial, kerelawanan, lingkungan, penyadaran,” ujar Chozin, yang juga penerima beasiswa Ford Foundation International Fellowship Program (IFP). 


Chozin pun mengajak milenial berpartisipasi untuk bergerak, baik secara langsung maupun tidak langsung. “Daripada mengutuk kegelapan, mengkritik saja tidak cukup, tetapi harus turun tangan dari kita yang akan membantu semuanya dari kesempitan.” 


Di akhir acara, dia juga mengajak milenial untuk tidak sekedar ‘urun tangan’, tapi juga ‘turun tangan’. Sesuai dengan motto gerakan yang digagasnya.


Turun Tangan sendiri adalah gerakan yang diinisiasi oleh anak-anak muda dalam semangat kolaborasi. Berbasis di Jakarta, gerakan ini mendedikasikan diri membantu perbaikan negeri ke arah perubahan yang lebih baik. Turun Tangan telah melakukan banyak gerakan sosial di Indonesia, termasuk melakukan edukasi politik mengenai peran-peran penting warga negara dalam setiap elemen berbangsa dan bernegara. (Nana/Dmr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like