Wisata dan Konservasi Sehati di Pantai Tongaci

Sean Sugito, nama itu tak pernah saya kenal langsung. Tahu namanya setelah googling mengenai Pantai Tongaci, satu-satunya lokasi Penangkaran Penyu di Bangka. Dia adalah pemilik proyek penyelamatan generasi para punggung batok tersebut. Bermula dari rasa prihatin atas menyusutnya populasi penyu, dia memulai penangkaran penyu sekitar tahun 2009. Di tanah kelahirannya, dia tak lagi bisa melihat suasana seperti masa kecilnya, dimana banyak penyu bertelur di sekitar Pantai Tongaci.

Mulanya lokasi penangkaran itu tertutup, dibuka untuk umum sejak Januari 2015 dan diresmikan pada tanggal 8 September 2016 oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam sebuah event bertajuk Bangka Culture Wave 2016. Kini lokasi tersebut ramai dikunjungi oleh wisatawan, apalagi setelah dilengkapi dengan fasilitas olahraga air seperti jet ski, banana boat, kite surfing, dan sebagainya.

Kebetulan lebaran kali ini (1438H/2017M) saya mudik ke kampung halaman istri di Sungailiat, Ibu Kota Kabupaten Bangka. Pantai Tongaci hanya berjarak sekitar 5 km dari tempat kami. Persisnya di Jalan Laut, Kampung Pasir, Sungailiat. Kami pun tak melewatkan kesempatan untuk berkunjung. Tak perlu menunggu libur lebaran tiba, di sela-sela menunggu berbuka puasa, kami berkunjung ke sana. Cukup membayar tiket Rp. 5000,- per orang, kami sudah bisa menikmati Tongaci Beach sepuasnya. 

Terdapat ratusan tukik jenis Penyu Hijau dan Penyu Sisik beragam ukuran yang dibesarkan di  beberapa kolam tepi pantai. Terdapat juga keramba besar untuk pembesaran penyu-penyu tersebut. Sebuah kolam besar berisi puluhan penyu dewasa menjadi obyek menarik dan edukatif bagi anak-anak kami.

Keramba pembesaran penyu di Tongaci. Dokumentasi pribadi
Buka puasa bersama di atas batu besar di Pantai Tongaci. Dokumentasi pribadi

Tak hanya penangkaran penyu, pantai itu juga sudah disulap menjadi lokasi wisata yang unik dan menarik. Terdapat kompleks bangunan yang diberi nama De Locomotif. Sesuai namanya, icon utama masuk ke lokasi tersebut adalah keberadaan sebuah kereta lokomotif yang dipasang di pintu masuknya. Begitu masuk, pemandangan kita dimanjakan oleh ratusan bahkan ribuan hiasan payung warna-warni yang digantung di sepanjang jalan.

Bagitu masuk, bangunan pertama yang akan dijumpai adalah Museum Garuda. Museum ini berisi koleksi barang-barang mulai dari keramik, alat musik, elektronik, peralatan perang, hingga kendaraan. Ingat, barang-barang tersebut tidak bisa disentuh dan tidak boleh difoto! Setelah melewati museum, berikutnya adalah galeri seni, perpustakaan, toko barang antik, kafe plus musik, kompleks patung tentara China yang diberi nama Terracotta Army.

Galeri seni lokasinya berhadap-hadapan dengan toko barang antik. Di galeri saya menyaksikan banyak koleksi lukisan lama, kebanyakan lukisan tokoh-tokoh bangsa dan juga berbagai model burung garuda yang biasanya banyak saya temukan di Bali. Sementara di toko terdapat ratusan benda-benda antik dan kuno yang tak ternilai harganya. Ada lukisan, patung logam maupun batu giok, alat musik, dan sebagainya. Mencoba menanyakan harganya, kami tak berani, karena pasti sangat mahal.

Persis bersebelahan dengan toko, adalah perpustakaan. Koleksinya lumayan banyak, sebagian besar adalah berkisar pada seni dan konservasi. Tentang perpustakaan ini menurut saya menarik. Biasanya di lokasi wisata apalagi pantai tak terdapat perpustakaan. Tetapi kali ini memang lain, terdapat perpustakaan yang layak untuk berlama-lama ditongkrongi. Keren khan, di pinggir laut ada perpustakaan yang koleksinya layak untuk dibaca! Jika pengelolaan perpustakaan ini disambungkan dengan komunitas-komunitas taman baca di sekitar lokasi, tentu akan lebih menarik lagi.

Di sebelahnya lagi adalah kompleks patung binatang. Ditulisnya Animal Park (kebun binatang), padahal isinya cuma patung-patung binatang. Ada patung gajah, monyet, harimau, dan masih banyak lagi. Jumlahnya kira-kira ratusan. Bisa dipahami sich, kenapa pemilik menamakan itu animal park. Mimpinya barangkali tempat itu berisi berbagai jenis binatang sungguhan yang selain langka juga bisa menghibur. Tetapi kebayang gak sich, memelihara binatang di lokasi pantai seperti itu? Selain cost-nya akan sangat mahal, saya yakin binatang-binatangnya juga tidak akan bertahan hidup lama karena cuaca dan lingkungan yang tidak mendukung.

Satu hal yang saya catat dari wisata singkat saya di Pantai Tongaci, tempat ini memadukan konsep konservasi dengan pariwisata. Satu sisi konservasi pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit; di sisi lain, wisata akan mendatangkan keuntungan. Konservasi tak akan berlangsung lama  jika tidak ada support ekonomi. Demikian juga, kegiatan ekonomi tak akan sustainable jika tanpa memikirkan aspek-aspek keberlangsungan lingkungan hidup bukan?

Menjorok lebih ke arah pantai, tepatnya di seberang halaman museum Garuda, terdapat kompleks patung tentara China. Patung-patung itu berseragam mirip dengan tentara kerajaan dalam film-film China yang pernah saya tonton. Jumlahnya sampai hampir ratusan. Saya sendiri belum paham mengenai filosofi keberadaan patung-patung itu. Tapi yang jelas, pasti mengandung banyak nilai filosofi Tiongkok.

Patung tentara China di Pantai Tongaci. Dokumentasi pribadi

Di seberang sana, di tengah laut, berjarak kira-kira tak sampai 1 kilo meter, berjajar kapal-kapal ‘penghisap’. Maksudnya adalah kapal-kapal penambang timah. Kapal-kapal itu bekerja tak kenal waktu menggerus dan menghisap pasir-pasir di dasar laut perairan Bangka untuk diambil timahnya. Jangan ditanya tingkat kerusakannya terhadap terumbu karang. Air laut pun sudah mulai keruh kami rasakan, tak sejernih dahulu. Saya yakin, praktik penambangan timah lepas pantai itulah salah satu penyebab utama berkurangnya populasi penyu di Pantai Tongaci ini.

Sesunggunnya, inisiatif penangkaran penyu yang dilakukan Pak Sean tak akan banyak artinya, jika kapal-kapal ‘perusak’ itu masih terus beroperasi. Banyak warga yang mengeluhkan maraknya operasi kapal-kapal penghisap tersebut. Tetapi kabarnya mereka di-backing oleh aparat dan pejabat di provinsi ini. Entahlah! Tiba-tiba saya membayangkan patung-patung tentara di halaman Museum Garuda itu mendadak hidup. Mereka bangkit dan bergerak mengusir kapal-kapal penghisap itu. []

Penulis: M Chozin Amirullah, pengunjung rutin Pulau Bangka | twitter: chozin_ID | instagram: chozin.id | website: chozin.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like