Retorika Perlu, Kehadiran yang Utama

Sore tadi aku mendapatkan sesi diskusi yang cukup mengesankan. Tanpa secara khusus bermaksud melakukan refleksi akhir tahun, tetapi rasanya diskusi tadi seperti refleksi akhir tahun sesungguhnya. Di penghujung sore tadi, setelah sejenak rehat dari aktivitas mengawal rangkaian acara ‘mengundang para guru berintegritas dengan bertemu dengan Presiden dan pimpinan KPK yang baru’, kami bicara soal progres selama satu tahun ini mengawal Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI).

Ialah Mas Aman, tepatnya Abdul Rahman Mamun, partner kerja terdekatku yang selama ini banyak berkontribusi menyambungkan kami dengan media. Latar belakangnya sebagai mantan pegiat media, dan bahkan mantan Ketua Komite Informasi Pusat (KIP), Mas Aman memang sangat lihai dalam membantu mengkomunikasikan apa-apa yang dikerjakan di Kementerian ke publik. Tentu saja, kelihaian itu takkan ada artinya seandainya tidak disuplai oleh kinerja para pejabat dan staf Kementerian yang kalau boleh saya bilang gila-gilaan. Ibaratnya penjual, tanpa ada suplai produk berkualitas dan stok yang cukup untuk dijual, maka takkan ada artinya.

Itulah yang sesungguhkan kami rasakan sekarang. Kecanggihan Mas Aman dalam komunikasi media, diimbangi dengan banyaknya aktifitas dijalankan oleh Kemdikbud yang didukung oleh kualitas. Hampir setiap hari, selalu saja ada aktivitas yang diselenggarakan oleh unit-unit teknis di Kementerian. Contohnya hari ini, tadi pagi salah satu direktorat di bawah Dirjend GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) membuat acara mempertemukan sekitar 500an kepala sekolah berintegritas dengan Presiden di Istana Negara, siangnya seminar mengenai roadmap guru bersama ICW (Indonesia Corruption Watch), malam ini masih ada Raker Diplomasi Budaya yang diselenggarakan oleh salah satu direktorat di bawah Dirjend Kebudayaan. Padahal malam sebelumnya, Mendikbud baru saja kembali dari Jember dan Banyuwangi menghadiri rangkaian acara ‘gerakan membaca‘ yang diselenggarakan oleh salah satu direktorat di bawah Dirjend PAUD-Dikmas.

Jika saja aktivitas-aktivitas tersebut hanya sekedar jalan, tentu hal ini tak membuat kami puas. Yang terjadi adalah, acara-acara tersebut nampak lebih berkualitas dan dikerjakan secara serius. Yang mengerjakan tentu bukan kami, melainkan oleh masing-masing direktorat tersebut. Jauuuuh,…dari asumsi pada umumnya yang memandang kegiatan pemerintah, apalai di akhir tahun, hanya sekedar jalan demi menghabiskan anggaran. Sekali lagi, yang kami rasakan, aktivitas-aktivitas tersebut punya visi dan dikerjakan secara serius.

Buktinya apa, kalau acara tersebut dikerjakan secara serius? Kami-pun berkelakar, kalau ada salah satu tim inti panitia yang tepar (jatuh sakit), itu artinya panitia mengerjakan dengan serius, hahhaha….. ! Tentu bukannya kami mengharap agar kalau ada event, panitia selalu ada yang sakit. Namun, dari pengalaman beberapa event sebelumnya, pada acara-acara yang kami pandang sukses, ya koq ndilalah ada salah satu pimpinan panitia yang sakit. Akhirnya kami mengambil kesimpulan sederhana saja, “Oo…itu karena mereka kerja dengan serius” hahaha.

Setidaknya berdasarkan analisis saya pribadi, periode ini memang terjadi perubahan kultur kerja yang signifikan. Dari yang sebelumnya sekedar menggugurkan kewajiban, menjadi berorientasi mencari terobosan-terobosan. Dari yang sekedar manjalankan amanah undang-undang, menjadi berorientasi menggerakkan. Dari yang tadinya jalan leha-leha, menjadi lari dan mengejar prestasi. Menteri Anies memang menciptakan iklim itu, iklim birokrasi yang berorientasi prestasi dan memfasilitasi masyarakat bergerak. Apa yang Menteri fikirkan, ucapkan, dan tindakkan adalah menge-drill seluruh jajaran Kementerian bergairah dan bergerak.

Tugas kami-kami ini adalah mengawal itu, membantu memastikan apa yang dirasakan oleh pimpinan bisa merembes sampai ke level paling bawah. Caranya sederhana, pendampingan. Ya, kami memberikan pendampingan secara nyata. Kami hadir mulai dari saat merencanakan, mengeksekusi, dan monitoring setiap kegiatan. Kami saling berbagi tugas, jika satu mendampingi suatu kegiatan di sebuah direktorat, maka yang lain mendampingi di tempat lain. Memang perlu waktu, untuk sebuah proses transformasi.

Pendampingan (kehadiran) itu sudah cukup. Sebab, sebagai orang yang dianggap dekat dan representasi Menteri, maka kehadiran kami sudah cukup untuk menjadi penanda keseriusan, motivasi, dan bahkan memonitor pekerjaan mereka. Barangkali ini yang selama ini luput oleh kebanyakan dari orang dekat pimpinan, memakai metode hit and run. Datang pada saat upacara pembukaan atau penutupan, tak peduli dengan proses persiapan dan di tengahnya. Itulah yang coba kami hindari sekarang.

Sekelumit diskusi sore tadi dengan Mas Aman, cukup memberikan tambahan semangat bagi kami untuk terus mengawal secara langsung program-program di Kementerian. Kehadiran kami lebih dibutuhkan dari pada retorika dan disposisi kami. Kehadiran kami ibarat pelumas bagi percepatan transformasi budaya kerja birokrasi ke arah yang lebih berorientasi prestasi dan menggerakan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like