Gerakan Pembudayaan Membaca di Papua

Dalam acara HAI(Hari Aksara Internasionalo) 2015 di Universitas Manokwari, Jayapura, Papua dalam pidatonya Anies baswedan mengungkapkan “dunia terpesona 5 tahun sudah yang tadinya 95% buta huruf dan 5% melek huruf, sekarang menurut data  angkanya mulai berbalik 95% sudah mulai melek huruf dan 5 % masih buta huruf lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Brazil dan india. Sungguh pencapaian yang fantastis dan pencapaian ini tidak lepas dari masyarakat yang turun tangan dalam merubah negara ini”.

Sekolah kalo kita lihat hanya sekedar tempat berkumpuknya anak-anak. Tapi jangan salah kira kalo sekola adalah tempat berkumpulnya wajah masa depan papua, karena itu inspirasi papua kedepan orang-orangnya dapat tercerahkan, mandiri dan kita bisa berkata saya bagian dari masyatkat yg jauh berkembang baik di skala Nasional maupun di kancah Internasional.

Membaca membuka wawasan, yang jadi tantangan adalah bagaimana menumbuhkan budaya membaca. Budaya itu datangnya diujung sedangkan di awal itu diajarkan, lalu dibiasakan sehingga menjadi kebiadaan kalau sudah menjadi kebiadaan lalu munculah membaca itu sebagai budaya. Kemendikbud sendiri dalam rencananya akan menerapkan wajib baca 10 menit sebelum memulai jam belajar. Pencanangan gerakan ini merupakan salah satu upaya dari pemerintah untuk meningkatkan minat baca di kalangan generasi muda. Meskipun hanya sepuluh menit setiap hari, kata Mendikbud, kebiasaan membaca cerita untuk anak dapat meningkatkan budaya literasi di Indonesia. “Lebih baik sebentar hanya sepuluh menit sehari tapi terus dilakukan, daripada membaca lama-lama tapi jarang,  Semua karakter dimulai dengan pembiasaan, jujur tepat waktu tegas semuanya dimulai dengan pembiasaan” ujar mendikbud Anies Baswedan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like