Rela Motoran 12 Jam, Demi untuk Turuntangan

Malam itu, meski perhetatan debat Capres Konvensi sudah terselesaikan, kami masih tetap semangat untuk membuat satu event lagi, yaitu training relawan Turuntangan Sumut. Bertempat di rumah salah seorang relawan Turuntangan Medan, kami mengundang para koordinator relawan se-Sumut. Sengaja kami hanya mengudang para koordinator, karena pertemuan seluruh relawan sudah dilakukan pada malam sebelum acara Debat. Ada sekitar 15 koordinator relawan yang hadir dalam acara training yang diampu langsung oleh Anggun dan Darul.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, pasca bertarung di arena debat, kami tetap ingin menunjukkan semangat yang menggelora di hadapan para peserta training. Kami merasa, seakan-akan kamilah yang paling semangat ber-turun tangan bersama Anies Baswedan. Namun, belakangan kami baru sadar bahwa jilatan api semangat yang berkobar pada diri kami, sesungguhnya, tak ada tandingannya dibandingkan dengan empat relawan peserta training asal Sibolga bernama Samsul Pasaribu, Mirwan Tanjung, Torang Silitonga, dan Ruslan Feri. Betapa tidak, kami yang tadinya mengira paling bersemangat, tiba-tiba kecut bergita mendengar cerita empat sekawan tersebut telah menempuh perjalanan sepeda motor selama 12 jam Sibolga-Medan, demi untuk mengikuti training.

Samsul, sang pentolan empat sekawan, sempat menceritakan kepada saya mengenai pengalamannya menempuh perjalanan sepeda motor 12 jam non-stop. Sebelum berangkat, dirinya sempat dicibir oleh kawan-kawannya di Sibolga begitu mengetahui mereka akan melakukan perjalanan 12 jam sepeda motor demi untuk sesuatu yang oleh oleh kalangan banyak sering disebut sebagai sesuatu yang ‘absurd’, bertemu dengan seseorang, yang bahkan untuk sekedar memberikan ongkos ganti bensin pun tidak.

Perjalanan 12 jam naik motor di Sumatera sudah barang tentu berbeda jauh dengan perjalanan serupa di Jawa. Jalan Sibolga menuju Medan bukanlah jalan yang mulus dan lurus, melainkan jalan berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan bukit yang terjal. Jika Anda lihat peta, maka akan terlihat posisi Sibolga dan Medan adalah dari ujung ke ujung. Medan terletak di pantai timur Sumatera Utara bagian utara, sementara Sibolga berada pada posisi pantai barat Sumatera Utara di bagian paling ujung selatan, dekat perbatasan dengan Sumatera Barat. Jarang ada orang bersedia melakukan perjalanan sejauh itu dengan menggunakan sepeda motor.

Tapi rupanya tekad Samsul dan ketiga kawannya sudah bulat, mereka memilih melakukan perjalanan dengan menggunakan sepeda motor demi menghemat biaya. “Jika kami naik angkutan, kami berempat ini bisa menghabiskan uang sekitar 3 jutaan, dengan mengendarai motor ini, kami hanya menghabiskan membeli 100 ribu untuk bensin dan beberapa puluh ribu untuk kami makan di warung selama perjalanan”, jelas Samsul.

Tekad Samsul dkk hadir dalam training relawan di Medan memang ingin menemui Anies Baswedan dan mendukung gerakan Turuntangan yang diinisiasi olehnya. Menurut Samsul, ditengah carut marutnya kondisi bangsa diterpa oleh badai korupsi dan dekadensi integritas, sosok Anies Baswedan adalah yang paling cocok untuk memimpin negeri ini.

“Pak Anies itu bersih, pintar dan low profile” terangnya.

Untuk kata yang terakhir ini, Samsul menjelaskan bahwa dirinya pernah punya pengalaman langsung ketika beberapa tahun yang lalu datang ke Jakarta menemui Anies Baswedan untuk mengundang sebagai pembicara di Sibolga. Biasanya, orang daerah apalagi tidak memiliki jabatan apapun, yang datang ke Jakarta akan disepelekan oleh ketika mendatangi tokoh nasional. Akan tetapi pengalaman Samsul sangat berbeda, waktu menemui Anies Baswedan di Jakarta, dirinya merasa diperlakukan sama dengan tamu-tamu yang lainnya, tidak ada sama sekali perasakan dinomor duakan ataupun disepelekan.

Mendukung gerakan Turuntangan bersama Anies Baswedan, Samsul dkk memang tergerak dari hati nuraninya sendiri.

Selama ini Samsul memang jengah dengan kondisi perpolitikan di daerahnya. Baginya, situasi perpolitikan di daerahnya nyaris tanpa harapan disebabkan oleh money politic yang menjangkit di semua lapisan. Menurut samsul, jika orang baik yang mau mencalonkan diri menjadi wakil atau pimpinan daerah tetapi tidak bersedia mengeluarkan uang untuk membeli suara, hampir bisa dipastikan tidak akan jadi.

Begitu akutnya ‘budaya’ money politic di daerahnya, sehingga kawan terdekatnya sendiri juga tidak bisa menghindari ‘tuntutan’ itu. Samsul menceritakan bahwa dirinya punya teman dekat yang saat ini mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Temannya itu menyiapkan anggaran yang tidak sedikit demi untuk membeli suara para pendukungnya.

Samsul pernah menanyakan pada temannya tersebut, “Kenapa kamu tidak kasih uang itu ke saya saja, untuk menjadi tim suksesmu?”

Temannya tersebut menjawab, “Saya tidak ajak kamu, karena saya tahu kamu pasti tidak mau saya bayar.”

Lalu ia membalas lagi, “Nah! Jadi, kan, kamu tahu kalau ada orang-orang seperti saya yang tidak mau dibayar, kenapa tidak kamu cari orang-orang seperti saya ini untuk dijadikan tim suksesmu?”

Saat perjalanan 12 jam menuju Medan, Samsul juga menceritakan bahwa dia dan ketiga kawannya sempat mampir di sebuah warung kopi. Sebagaimana umumnya, warung kopi adalah tempat dimana orang-orang biasa nongkrong dan membicarakan apa saja. Betapa mirisnya, ketika dirinya mendengar orang di warung dengan enteng dan terbuka menceritakan mengenai jumlah uang yang dibagi-bagikan oleh para politisi demi untuk menggaet suara.

“Si Anu dapat 100 ribu, Si Anu dapat 200 ribu. Ini miris sekali, saya sedih mendengarnya”  ungkap Samsul.

Didasari atas kegelisahan itulah, Samsul dkk ‘nekad’ menempuh perjalanan sepeda motor selam 12 jam, demi untuk mengikuti training Turuntangan. Baginya, bergabung dengan Turuntangan adalah bagian dari cara mewujudkan idealismnya untuk memperbaiki kondisi bangsa. “Saat ini kami tidak sendiri, kami sudah tersambung dengan rekan-rekan relawan Turuntangan lainnya se-nusantara melawan kejahatan,” tegas Samsul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like