Mas Sjahid, Yang Telah Syahid

Namanya Sjahid, tepatnya Ahmad Sjahid. Saya biasa memanggilya sebagai Mas Sjahid, beliau adalah salah satu senior kami di gerakan TurunTangan yang inisiasi oleh Anies Baswedan. Usianya sebaya dengan Mas Anies, beliau adalah salah satu teman sepermainan Mas Anies ketika kuliah di UGM Yogyakarta dulu. Menurut Mas Anies, Mas Sjahid adalah salah satu sahabat terbaiknya. Setiap kali Mas Anies menggagas suatu gerakan sosial maupun politik, Mas Sjahid tidak pernah absen membantu merintis dan menumbuhkembangkan gerakan tersebut hingga menjadi besar. Meski perannya lebih banyak di belakang layar, Mas Sjahid adalah yang selalu berjasa dalam setiap ‘gebrakan’ yang dilakukan oleh Mas Anies.

Saat selesai menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM menjelang akhir tahun ’90-an, Mas Anies bersama sekitar 20-an teman aktivis Yogyakarta, mendirikan ‘limited group’ bernama CSCD (Center for Student and Community Development). Kelompok strategis ini memiliki program memberikan training dan pengembangan kepemudaan di desa-desa terpencil. Kegiatan-kegiatannya bahkan sampai ke wilayah Kalimantan Timur. Mas Sjahid adalah otak utama dalam menciptakan metode training dan pengelolaannya. Bagi Mas Anies, Mas Sjahid memang memiliki kemampuan yang sangat khas dalam menerjemahkan gagasan-gagasan general Mas Anies menjadi sebuah formulasi metodologi per-trainingan.

Pun ketika Mas Anies mendirikan Gerakan Indonesia Mengajar, tahun 2010, Bersama Hikmat Hardono dkk., Mas Sjahid -silently- banyak berjasa menyusun dan menyiapkan training bagi para Pengajar Muda sebelum dideploi ke lokasi-lokasi mengajar di tempat terpencil. Dan belakangan ini, saat Mas Anies mendirikan gerakan sosial-politik bernama TurunTangan, Mas Sjahid adalah konseptor dalam menciptakan model training untuk membangun militansi bagi relawan TurunTangan di berbagai daerah.

Dan,… yang tidak banyak orang tahu, yang membuat sekaligus mengelola akun Facebook Anies Baswedan sampai tahun 2008, adalah Mas Sjahid, tanpa sepengetahuan Mas Anies. Cerita dari Mas Anies: tahun 2008, Facebook sudah nge-trend di Indonesia, Mas Anies belum lama diangkat sebagai rektor (termuda) di Paramadina. Datanglah Mas Sjahid kepada Mas Anies, menyampaikan: “Nies, ini akun Facebook-mu dan ini password-nya, silahkan kamu kelola sendiri ya! Aku sudah tidak lagi sanggup mengelolanya, karena sudah terlalu banyak ‘friend’ yang aku tidak mengenalnya.” Rupanya, sampai dengan tahun 2008, orang-orang yang merasa ber-interaksi dengan Anies Baswedan via facebook, sebenarnya berinteraksi dengan Mas Sjahid. Artinya, Mas Sjahid bisa dengan sempurna menulis status, memasang foto, meng-approve teman baru dan bahkan me-reply message dengan gaya bahasa Anies Baswedan. Kenapa Mas Sjahid (meskipun tanpa sepengetahuan Mas Anies) membuatkan akun Facebook Anies Baswedan? Waktu itu, Mas Sjahid sudah memproyeksikan nama Anies Baswedan pasti bakal naik daun dan pasti membutuhkan akun Facebook untuk berinteraksi di media sosial. Daripada didahului dibuatkan oleh orang lain yang Mas Anies sendiri tidak mengenalnya dengan baik, maka dirinya berinisatif ‘menyelamatkan’ nama akun tersebut. Seperti kata Mas Anies, sebagai seorang sahabat, Ahmad Sjahid memiliki ‘loyalitas tanpa batas’.
Mas Sjahid, Selamat Jalan !

Saya memang menjadi ‘follower’ Mas Anies sejak beliau menjadi aktivis di UGM, kuliah di Amerika, pulang bekerja di Partnership, menjadi rektor di Paramadina, dan kemudian merintis Gerakan Indonesia Mengajar, serta sekarang di gerakan TurunTangan. Sebagai ‘follower’ lama, saya tentu menjadi salah satu orang yang paling banyak mengikuti update status Mas Anies, termasuk sahabat-sahabat dekatnya. Tetapi, jujur, saya baru mengenai sosok sahabat terdekat Mas Anies bernama Ahmad Sjahid, kira-kira tiga bulan yang lalu, di markas TurunTangan di Ciasem. Kira-kira pertengahan Desember 2013 lalu, saat TurunTangan menyelenggarakan training NLP untuk relawan, itulah saat pertama kali saya mengenal secara fisik Mas Sjahid. Saya memang bukan peserta training aktu itu, akan tetapi saya sempat mengikuti salah satu penggalan sesi trainingnya bersama Mas Aman. Disitulah saya mulai mengetahui, dari kesederhanaan penampilannya, Mas Sjahid memiliki kecakapan luar biasa dalam memberikan materi dan mengelola training. Mas Sjahid adalah orang yang sangat antusias dan super energik saat menyampaikan materi. Siapapun pesertanya, kapanpun waktunya, jika yang memberikan materi adalah Mas Sjahid, dijamin tidak akan ada peserta yang ngantuk. Belakangan baru tahu, jika ternyata beliau adalah dosen teladan di London School of Public Relation di Jakarta.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Mas Syahid, bisa dibilang amat jarang, frekuensinya bisa dihitung dengan jari tanganku. Saking jarangnya saya bertemu, pernah di suatu rapat TurunTangan bersama Mas Ananda, Anggun cs dan Mas jaedi, saya berkali-kali lupa menyebut namanya. Tentu saja, sebagai junior, saya sangat malu, perasaan merasa tidak sopan kepada kepada yang lebih senior. Hal ini sempat membuat saya merasa tidak nyaman selama memimpin rapat. Namun, tak kulihat rasa ketersinggungan sedikitpun pada dirinya. Bahkan, menyaksikan kekikukanku, Mas Sjahid tidak berusaha mengoreksi kesalahan penyebutan nama olehku. Benar kata Mas Anies, Mas Syahid adalah sosok yang luas hatinya.

Meski saya jarang bertemu dengan Mas Syahid, saya tahu banyak tentangnya dari cerita-cerita oleh Mas Anies. Bagi Mas Anies, Mas Syahid adalah sosok sahabat sejati yang paling bisa dipercaya dan memegang rahasia. Cerita Mas Anies, pernah suatu saat, dirinya merencanakan membuat training untuk pegiat CSCD. Agar menimbulkan rasa penasaran bagi calon pesertanya, detail training tersebut hanya diketahui dua orang saja, yaitu hanya Mas Anies dan Syahid. Diumumkanlah bahwa training akan diselenggarakan di Bandung. Bersemangatlah para calon peserta untuk mengikuti training tersebut, dengan harapan sekaligus akan jalan-jalan ke kota Bandung. Pada waktu dan lokasi yang sudah ditentukan, berkumpullah para calon peserta dengan segala perlengkapan travelingnya.

Mas Sjahid diminta menjadi pemandu perjalanan. Dengan menaiki mobil angkutan umum, dimulailah perjalanan menuju ke lokasi training. Mobil angkutanpun berjalan, tapi kali ini bukan ke arah barat (arah ke Bandung), melainkan ke arah utara (arah lokasi perkemahan kaliurang). Di tengah perjalan, calon mulai bertanya-tanya, kenapa ke Bandung koq arahnya ke utara? Sebagai pemandu perjalanan, Mas Syahid diam, tak mau menjawab. Barulah setelah menjelang satu jam perjalanan, mobil berhenti dan kawasan bumi wisata Kaliurang (Yogyakarta).

Mas Syahid mengajak calon peserta untuk turun dan memasuki sebuah gedung training. Di situlah peserta baru sadar, bahwa mereka telah ‘ditipu’ oleh dua ‘aktor-pelaku’ bernama Anies Baswedan dan Ahmad Sjahid; training diumumkan berlokasi Bandung, tetapi penyelenggaraannya di Kaliurang. Maka, sesi pertama training menjadi sesi ‘pengadilan’ terhadap Anies dan Sjahid atas persekongkolan gelapnya menjerumuskan peserta ke dalam training. Sesi ‘pengadilan’ menjadi semakin panas, setelah salah satu peserta menyampaikan bahwa dirinya sudah terlanjur mengirimkan telegram (waktu itu belum ada HP) ke saudara dan kawan-kawannya di Bandung bahwa dirinya akan bertandang ke sana, di sela-sela training.

Masih terngiang dalam ingatan saya, di pertengahan bulan Februari lalu, saat Divisi Relawan TurunTangan menyelenggarakan training serentak di beberapa kota, Mas Sjahid menyempatkan diri mengisi training di Mataram (NTB) bersama Darul cs. Sepulang dari Mataram, beberapa hari setelahnya, kami – warga Ciasem – mendapatkan kabar bahwa Mas Syahid tak sadarkan diri, terkena serangan stroke batang otak. Mas Anies dan beberapa pegiat TurunTangan menyempatkan diri untuk menengok di rumah sakit. Hari ini, persis 14 hari semenjak Mas Sjahid berbaring di rumah sakit, saat para relawan TurunTangan yang dibina oleh Mas Syahid sedang mendampingi Mas Anies ‘bertempur’ di medan Debat Capres Konvensi Demokrat di Makassar, kami dikejutkan oleh kabar bahwa Mas Sjahid telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya, pergi mendahului kami menghadap yang maha kuasa.

Tapi kami tetap meyakini Mas Sjahid masih bersama kita, di gerakan TurunTangan ini. Saya meyakini bahwa Mas Sjahid telah syahid, bukan mati. Apa yang sudah dibangun oleh Mas Sjahid akan terus bersama kita. Mas Sjahid telah meletakkan dasar pembangunan gerakan perubahan ini, kami akan terus serius menjaga dan mengembangkannya.

Di alam sana, Mas Sjahid akan menjadi saksi (syahid) kami kepada Tuhan, bahwa kami semua sedang bergerak, bersama-sama mengajak orang-orang baik untuk tidak tinggal diam melawan kejahatan.

Kami semua akan berbuat yang terbaik untuk memperbaiki negeri yang kita cintai ini. Selamat jalan Ahmad Sjahid, Engkau telah Syahid!

 

* Tulisan ini dibuat di dalam pesawat saat perjalanan pulang dari Makassar ke Jakarta, 5 Maret 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like