Saat Anak-anak Papua Membaur ke Jawa

Wajah-wajah hitam manis itu terlihat tegang seperti memendam berbagai pertanyaan. Bahkan saat menit-menit pertama aku masuk ke kelas dan menyampaikan salam pembukaan. “Adik-adik, perkenalkan, saya staf khusus Mendikbud datang ke sini khusus untuk menjemput adik-adik yang lusa akan berangkat ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di sana, tinggal jauh dari orang tua. Adik-adik sudah siap?”. Suasana masih membisu, seperti saling menunggu siapa yang berani paling awal angkat suara, lalu yang lain akan mengikuti seperti suara koor. “Saya ulang lagi, siaap?”. Dimulai oleh suara satu orang diikuti suara serentak, “siaaap!”. Sebuah kata siap yang nadanya masih canggung, sebenarnya.

Sekitar 97 siswa dari pedalaman kabupaten di Papua bagian tengah-selatan seperti Merauke, Puncak, Boven Digoel, Pegunungan Bintang, dan Asmat dikumpulkan selama 3 hari di sebuah asrama Katholik di Ibu Kota Merauke. Mereka mengikuti pembekalan menjelang pemberangkatan ke Bandung, Jawa Barat. Dari Bandung mereka akan didistribusikan ke berbagai sekolah menengah di sekitar Jawa Barat, seperti Tasikmalaya, Bekasi, Karawang, dan sebagainya.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan mengisi salah satu sesi pembekalan tersebut. Saya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berinteraksi langsung dengan para siswa yang baru saja lulus SMP dan akan berpisah dengan orang tuanya selama tiga tahun tersebut. Interaksi langka itu saya manfaatkan untuk memotivasi mereka agar siap menjalani kehidupan yang tentu saja jauh berbeda dengan sebelumnya.

Setiap tahun, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberangkatkan 500 siswa menengah dari Papua untuk di sekolahkan di beberapa kota di luar Papua seperti Bandung, Serang, Semarang, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, Denpasar dan sebagainya. Programnya disebut dengan Afirmasi Pendidikan Menengah untuk Papua (ADEM).

Program afirmasi ini sudah berjalan selama 3 tahun sehingga sudah 1500 siswa asli Papua yang masuk dalam program afirmasi ini. Tujuannya adalah untuk mempercepat kemajuan pendidikan di tanah Papua. Disamping menempuh pendidikan di sekolah-sekolah, para siswa Papua diharapkan bisa membaur den belajar mengenai berbagai budaya yang ada di tempat tinggalnya yang baru.

Ini adalah program yang menurut saya keren. Ini merupakan program akulturasi yang hasilnya bisa kita rasakan puluhan tahun yang akan datang. Bayangkan, 10-20 tahun lagi, ketika mereka selesai menempuh pendidikan tinggi dan bahkan berkarir di luar pulaunya, mereka akan membangun jejaring persahabatan yang akan berdampak pada kemajuan Papua. Tidak perlu menunggu 10 tahun, saat mereka menempuh pendidikan, mereka akan berinteraksi, belajar budaya lain, dan juga membangun persaudaraan antar etnis.

Demikian juga siswa-siswa di sekolah yang ditampatinya, akan mendapatkan pengalaman menerima kedatangan siswa dari tempat lain yang kebetulan secara tradisi dan budaya cukup jauh berbeda. ini adalah soal membangun ke-Indonesiaan, soal menjadikan setiap rakyat yang hidup di belahan Indonesia manapun merasakan rassa kei-Indonesiaannya.

Staf Khusus Presiden Asli Papua

Tiga hari kemudian (14 Agustus 2015), ratusan siswa program ADEM Papua tersebut diserahterimakan oleh Pemerintah Provinsi Papua kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat (14/8). Tidak hanya yang dari klaster Merauke, sebagain siswa juga diberangkatkan dari klaster Jayapura dan Biak yang diberangkatkan ke kota lain, seperti Semarang dan Surabaya. Kali ini istimewa, acara penyambutan di kota Bandung dihadiri langsung oleh Staf Khusus Presiden RI Lenis Kogoya. Disamping itu, perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri juga hadir.

Dalam sambutannya staf khusus presiden yang juga ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua menyampaikan bahwa program afirmasi ini adalah bentuk investasi kita untuk membangun Papua di masa depan. “Ke depan, kita akan upayakan memperbesar program ini bukan hanya pengiriman siswa ke Jawa dan Bali saja, tetapi juga ke pulau-pulau lain di Indonesia”‘ ungkapnya.

[Bersama staf khusus Presiden Lenis Kogoya di Bandung, 14/8/2015]

Saya berfikir, ini program keren banget. Ke depan memang harus diperbesar skalanya dan distribusinya diperluas. Bukan hanya ke sekolah di kota-kota Jawa dan sekitarnya, tetapi juga ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan sebagainya. Jika selama ini, siswa-siswa ADEM kebanyakan dikostkan atau diasramakan di sekolah tujuan, ke depan program orang tua asuh musti didorong. Anak-anak siswa ADEM jangan lagi kos atau asrama, tetapi diikutkan kepada keluarga atau orang tua asuh. Tujuannya, agar terbangun persaudaraan jangka panjang, kelurga yang menjadi orang tua asuh akan menjadi saudara bagi keluarga siswa ADEM di tanah kelahirannya di Papua. Siswa-siswa ADEM juga akan lebih cepat proses adaptasinya karena diasuh langsung oleh keluarga yang secara sosial sudah diakui oleh masyarakat sekitarnya.

Biarkan anak-anak Papua juga tumbuh dan merasakan interaksi dengan saudara-saudaranya di luar Papua secara dini. Agar perasaan menjadi Indonesia juga tumbuh dari semenjak awal. Agar kesempatan yang sama, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, bersama saudara-saudaranya se-Indonesia. Agar orang-orang yang di luar Papua, tak lagi menganggap orang lain kepada orang-orang Papua. biar semua merasakan bahwa, “Papua Adalah Kita”! []

20 September 2015 18:44:36    http://www.kompasiana.com/chozin/saat-anak-anak-papua-membaur-ke-jawa_55fe35de4223bdaa24aa97ab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like