Sukarno dan Ayahku: Indonesia Merdeka 17 Kali

Sukarno, seluruh dunia tahu. Di luar negeri, kalau ketemu orang di jalan, minta sebut beberapa nama terkait Indonesia, yang akan pertama kali disebut pasti Sukarno. Ayahku (ayah tiri), tak seterkenal Sukarno. Ia hanya orang kampung yang kebetulan dianggap sebagai orang ‘pintar’ sehingga sering dimintai obat dan atau nasihat bagi warga yang punya hajat atau terkena musibah. Ayahku adalah pengagum berat Sukarno. Ia diantara sekian orang yang meyakini Sukarno sebagai ‘waliyul amri‘. Lebih dari itu, baginya, Sukarno Imam Mahdi, yang diturunkan untuk memimpin Indonesia.

Mudik lebaran kali ini, seperti biasanya, aku menyempatkan untuk diskusi dengan ayah. Tidak seperti biasanya yang berkisar pada soal agama, topik diskusi kali ini adalah tentang Sukarno. Kenapa ia mengajak diskusi topik itu? Mungkin karena beliau melihat aktifitas politikku belakangan ini sebagai relawan Jokowi-JK, yang dianggapnya sering interaksi dengan para Sukarnois.

 

1406640264798335963Disungkemi tamu. Poster Gus Dur di belakangnya

Kali ini saya lebih suka mendengar dari pada bercerita. Biasanya kami diskusi secara seimbang. Bukan apa-apa, karena saya ingin mencerap lebih banyak cerita pengalaman darinya.

Ia membuka diskusi dengan cerita saat menghadiri rapat raksasa pidato Sukarno di alun-alun Pakalongan tahun 1952. Kata-kata Sukarno yang masih kuat diingat oleh ayahku adalah: “Indonesia harus merdeka 17 kali”.

Mengutip ayahku, beginilah kira-kira bunyi pidato Sukarno waktu itu:

“Rakyat Indonesia harus merdeka 17 kali!

“Merdeka satu kali saja sudah hebat, apalagi merdeka 17 kali.”

“Bapak/Ibu tahu, merdeka 17 kali itu apa?” Hadirin menjawab serentak: “tidaaaak”

Kata Sukarno: “Dengarkan Bapak/Ibu,…!

“Sholat dhuzur berapa kali?” “Empaat”, jawab hadirin

“Ashar berapa rokaat?” “Empaat…!”

“Maghrib berapa rokaat?” “Tiga…!”

“Isya berapa rokaa?” “Empaat…!”

“Shubuh berapa rokaat?” “Dua…!”

“Coba hitung, jumlahnya ada berapa rokaat?” totalnya 17 rokaat bukan?”

“Rakyat Indonesia harus merdeka sebanyak 17 kali, yaitu dengan menjalankan sholat lima waktu dalam sehari.”

Angka 17 sepertinya menjadi angka istimewa Sukarno. Dengan angka 17 ini pula, Sukarno juga ‘ngotot’ untuk mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus, bertepatan dengan hari Jumat, 17 Ramadhan. Selanjutnya, padamasa pemerintahannya, Sukarno juga selalu memberikan pidato kenegaraan setiap tanggal 17 Ramadhan.

Ayah masih sangat terkesan dengan pidato tersebut. Baginya, Sukarno bukan hanya sekedar pemimpin pergerakan kebangsaan, tetap juga pemimpin Islam. Sukarno memang tiak pernah menyebut dirinya seorang ulama, kyai atau ahli agama sekalipun. Tetapi gagasan-gagasan Sukarno hampir selalu terinspirasi dari nilai-nilai dalam Al-quran.

“Saya memang bukan orang yang bisa membaca tafsir Al-quran, tetapi saya bisa memahami tafsir-tafsir Al-quran itu secara mendalam”, begitu kata Sukarno sebagaimana dikutip oleh ayah.

Menurut ayah, bukti ke ‘ulama-an Sukarno juga bisa dilihat dari cerita berikut:

“Suatu kali, di kalangan ulama berdebat mengenai donor darah sebagaimana yang digalakkan oleh PMI sekarang ini. Waktu itu perdebatan ulama adalah mengenai halal/haramnya mendapatkan donor darah (transfusi darah) dari orang non-Muslim. Hampir semua ulama mengatakan bahwa menerima/memberi donor darah pada non-Muslim adalah haram, dengan dasar bahwa orang kafir najis. Pendapat tersebut tentu dengan mengutip salah satu ayat Al-quran berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis” (Q.S. At-Taubah [9] : 28)

Sukarno waktu dengan tegas mengatakan bahwa donor darah dengan orang non-Muslim halal. Menurut Sukarno, yang najis itu adalah aqidahnya, bukan badannya. Buktinya, jika ada orang non-Muslim masuk menjadi Muslim, maka cukup dengan membaca syahadat. Kita tidak perlu mencuci darahnya, bukan? Jika darah non-Muslim itu najis, maka kalau ada orang non-Muslim masuk Islam, maka seharusnya kita mencuci juga darahnya. “Mendengar pernyataan Sukarno tersebut, ulama-ulama yang tadinya berdebat soal halal/haramnya menerima donor darah, langsung terdiam,” kata ayah.

[Tentu saja, cerita di atas adalah versi ayahku, yang setidaknya, mewakili cerita yang berkembang di masyarakat kebanyakan waktu itu. Versi yang lebih sahih soal perdebatan donor darah tersebut adalah sebagaimana yang dimuat di koran Pemandangan, 18 Juli 1941, bisa dibaca di sini: http://historia.co.id/artikel/modern/1244/Majalah-Historia/Sukarno_dan_Donor_Darah_Haram]

Lebih dari sekedar itu, keyakinan ayah bahwa Sukarno adalah bukan manusia biasa dibuktikan dengan ‘laku spritual’. Beberapa waktu sebelum Sukarno meninggal, ayahku katanya pernah melakukan ritual mengirimkan hadiah Al-fatihah kepada Sukarno selama 40 hari berturut-turut. Persis peada malam ke-40, akhirnya ia dipertemuakan dengan Sukarno (tentunya bukan secara fisik). Ayahku melihat Sukarno berjalan dari arah barat menuju kota dan kemudian belok ke utara, ke arah laut Jawa. Ayahku tidak bermaksud menafsirkan pertanda apa hadirnya Sukarno atas hadiah Al-Fatihah tersebut, tetapi ia hanya ingin membuktikan apakah Sukarno itu memang benar-benar ‘wali‘ (dalam definisi ayahku) ataukah hanya sekedar manusia biasa? “Kalau Sukarno manusia biasa, hadiah Al-Fatihah itu tidak akan direspon”, katanya.

Di kampung, ayah dikenal sebagai tokoh agama. Kecintaannya pada ulama dibuktikan dengan banyaknya poster foto ulama di rumahnya. Mulai dari pendiri NU Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, KH Abudrrahman Wahid (Gus Dur), Habib Luthfi bin Yahya, dan sebagainya.

1406640711684458158
Ruang tamu, ada foto sosok Habib

Tetapi di rumahnya juga terpampang poster besar Sukarno, dengan bingkai warna merah besar. Bingkai itu dibuat khusus oleh ayah. Dalam poster tertulis:

 

14066414712141892291
Foto Sukarno di dinding rumah (koleksi pribadi)

 

Terbukti dalam sejarah sepanjang zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran, selalu kristalisasi keringat.”

(Sukarno, pada peringatan hari Proklamasi VI)


Ayahku adalah ulama kampung, tinggal di kampung dan memberikan pelayanan bagi warga kampung. Ayahku mengagumi Sukarno dengan sepenuh jiwa. Baginya Sukarno adalah titisan Imam Mahdi yang dikirimkan untuk mengurus Indonesia. Dari kampungya yang kecil, sebagaimana Sukarno, ayahku ingin mengurusi Indonesia agar tetap damai, adil dan sejahtera dalam lindungan Yang Maha Kuasa, baldatu thoyibatun warbbun ghofur. []

 

30.07.14 03:47:43     http://www.kompasiana.com/chozin/sukarno-dan-ayahku-indonesia-merdeka-17-kali_54f6921ba33311197c8b5155

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like