Sekilas Pengalaman Beasiswa Luar Negeri

Setelah melalui proses yang memakan waktu hampir satu tahun, akhirnya namaku tercantum diantara 44 orang penerima beasiswa International Fellowship Program (IFP) Ford Foundation dari Indonesia. Beasiswa IFP dikelola oleh sebuah lembaga internasional bernama Institute of International Eduacation (IIE) yang berpusat di New York. Pengelolaannya di Indonesia dipercayakan pada sebuah lembaga bernama The Indonesian International Education Foundation (IIEF) yang berkantor pusat di Jakarta. Dengan beasiswa IFP saya menyelesaikan program S-2 di Ohio University, USA.

Di Indonesia, beasiswa IFP dilaunching pada tahun 2001 untuk jangka waktu hanya 10 tahun. Setiap tahun IFP memberangkatkan satu angkatan beasiswa yang rata-rata berjumlah 40-an orang. Jadi, targetnya hanya 400 sarjan Indonesia yang diberangkatkan. Pada tahun 2011, program tersebut ditutup. Berbeda dengan beasiswa lain yang rata-rata mensyaratkan prestasi akademik dan skor tes bahasa Inggris yang tinggi, beasiswa IFP tidak terlalu mensyaratkan hal-hal tersebut. Syarat penerimaan beasiswa ini lebih menekankan pada aktivitas sosial-kemasyarakatan dan atau berasal dari kelompok marjinal. Yang dimaksud kelompok marjinal luas, bisa berasal dari daerah tertinggal, suku terasing, daerah perbatasan, penyandang diffabilitias dan sebagainya. Perempuan juga mendapatkan prioritas untuk menerima beasiswa ini.

Saya adalah generasi angkatan yang ketiga penerima beasiswa IFP dari Indonesia. Sebagai aktivis dengan skor Indeks Prestasi (IP) yang tidak cemerlang, tentu saja saya lebih memilih untuk melamar IFP dari pada ke Fulbright. Pengalaman aktivitas sosial saya di  dan beberapa LSM di pedesaan saya jadikan sebagai daya tawar saya, untuk menutupi keterbatasan kemampuan Bahasa Inggris saya.

Pada tahun 2004 saya resmi menjadi penerima beasiswa IFP dan harus menjalani kursus bahasa Inggris selama satu semester di UI Jakarta. Sebagai aktivis yang sebelumnya berbasis di Yogyakarta, kesempatan untuk tinggal di Jakarta merupakan kesempatan yang bagus juga buat saya untuk aktif dan menimba pengalaman aktivisme di Jakarta. Oleh karena itu, selama menjalani kursus sampai jadual keberangkatan saya studi di luar negeri, saya manfaatkan untuk secara optimal aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan politik.

Lolos sebagai penerima beasiswa IFP bukan berarti otomatis lolos sebagai mahasiswa di luar negeri. Untuk bisa kuliah di luar negeri, saya harus apply lagi ke universitas yang saya inginkan. Saya membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk menunggu keputusan penerimaan aplikasi di universitas yang saya pilih. Tiga universitas di Kanada dan Amerika yang saya kirimi aplikasi, tidak satupun yang memberikan jawaban. Beruntunglah, seorang Indonesianis dari Ohio University – USA Elizabeth Colins ‘menemukan’ proposal penelitianku mengenai budaya maritim. Beliaulah yang mengenalkan saya pada seorang profesor antropolologi maritim bernama Gene Ammarell. Beliau kemudian menawari saya untuk kuliah di Ohio University. Tanpa banyak ba-bi-bu, saya langsung manjawab: “bersedia!”.

Sekonyong-konyong saya diterima sebagai mahasiswa S-2 di Ohio University pada program Studi Asia Tenggara (Southeast Asian Studies Program). Tanggal 24 Maret 2006, dengan menggunakan pesawat Northwest Airlines, saya meninggalkan Indonesia menuju negeri Paman Sam. Perjalanan selama 32 jam Indonesia-Amerika menjadi momen yang mengubah jalan hidup saya. Jika sebelumnya saya terbiasa berbicara dalam bahasa Indonesia, maka setelah itu saya musti bicara dalam bahasa Inggris setiap hari. Jika sebelumnya saya bisa bertemu dengan keluarga setiap hari, kini saya harus meninggalkannya selama minimal dua tahun. Status saya juga sudah berubah menjadi seorang graduate student di salah satu universitas pesta nomor satu di Amerika.

Dua tahun kehidupan saya di kampung Athens telah menorehkan banyak pengalaman yang sangat berarti. Mulai dari pengalaman dalam budaya baru yang sangat berbeda sampai dengan pengalaman interaksi dengan berbagai macam orang dari seluruh dunia yang berasal dari latar belakang berbeda. Sesuatu yang saya sampai sekarang sangat berguna di sini adalah pengalaman organisasi. Saya pernah dipercaya menjadi programming director pada International Student Union (ISU) Ohio University. Lembaga tersebut merupakan payung bagi organisasi-organisasi internasional di kampus. Oleh karena itu saya memiliki pengalaman mengelola kegiatan pada level internasional.

Bagaimana Cara Sekolah di Luar Negeri

Belajar di luar negeri merupakan impian hampir semua orang. Selain karena dorongan “mitos” untuk mendapatkan pendidikan dengan kualitas lebih baik, belajar di luar negeri merupakan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kultural yang tidak bisa ditemui apabila hanya belajar di dalam negeri. Interaksi dengan para mahasiswa dari berbagai negara di seluruh dunia sangat bermanfaat untuk menambah wawasan dan kebijaksanaan seseorang.

Ada dua cara untuk bisa belajar di luar negeri, biaya sendiri dan beasiswa. Belajar di luar negeri dengan biaya sendiri tentu sangat sulit bagi orang Indonesia. Selisih standar mata uang yang begitu jauh, menjadikan biaya pendidikan di luar negeri sangat mahal. Hanya orang-orang ber-uang saja yang bisa belajar ke luar negeri.

Bagi yang tidak ber-uang, cara yang harus dilakukan adalah dengan melamar beasiswa. Ini adalah satu-satunya cara yang paling mungkin dilakukan. Untuk mendapatkannya, tentu saja harus bersaing ketat dengan para kompetitor. Oleh karena itu kemampuan yang lebih menjadi syarat utama untuk menjadi penerima beasiswa.

Ada beberapa lembaga pemberi beasiswa dari luar negeri. Untuk yang ingin melanjutkan kuliah di Amerika, lembaga-lembaga seperti Fulbright, Ford Foundation, General Electric, dan sebagainya merupakan beberapa contoh lembaga yang selalu membuka lowongan beasiswa tiap tahun. Jika ingin melanjutkan pendidikan ke Australia ada AUSAID, sementara jika ingin ke Eropa ada Cavening, DAAD, dan sebagainya.

Di Indonesia lembaga-lembaga seperti IIEF (the Indonesian International Education Foundation), AMINEF (the American-Indonesian Exchange), British Council, STUNED dan sebagainya merupakan lembaga-lembaga yang menjadi pusat informasi beasiswa ke luar negeri. Selain itu kantor-kantor kedutaan masing-masing negara juga merupakan sumber informasi yang tepat untuk mencari beasiswa di luar negeri.

Sebenarnya masih ada cara ketiga untuk bisa melanjutkan pendidikan di luar negeri, yaitu kuliah sambil bekerja. Untuk membiayai kuliahnya, mahasiswa bekerja di kampus atau tempat-tempat lainnya. Namun hal ini sulit dilakukan oleh mahasiswa yang baru datang. Artinya, akan sulit bagi mahasiswa Indonesia yang ingin langsung kuliah sambil bekerja di luar negeri, karena pasti akan sulit perizinannya.

Mahasiswa yang mebiayai kuliahnya dengan bekerja, pada awalnya biasanya bukan mahasiswa bekerja. Awal-awal kuliah biasanya masih dibiayai oleh keluarganya atau lembaga pemberi beasiswa. Setelah beberapa tahun kuliah, barulah yang bersangkutan mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya. Di kampus, biasanya sebagai  tenaga pengelola perpustakaan, pelayan di kantin, dan tenaga administrasi. Sebagian dari mereka juga ada yang menjadi asisten pengajar di jurusannya masing-masing. Istilah untuk pekerjaan ini adalah teaching assistant (TA). Sebagian lagi bekerja di toko dan restoran di sekitar kampus.

Bicara soal kuliah sambil bekerja, rata-rata mahasiswa Amerika justru melakukan itu. Budaya mandiri Amerika mengarahkan anak-anak muda Amerika untuk mulai tidak tergantung dengan orang tuanya sejak dini. Rata-rata teman-teman Amerika-ku sudah mulai bekerja pada usia 18 tahun (lulus SMA). Mereka bekerja apa saja, mulai dari pelayan toko, tenaga administrasi, pelayan restoran, dan sebagainya. Oleh karena itu begitu masuk kuliah, mereka rata-rata sudah membiayai kuliahnya sendiri. []

22 Mei 2014 22:53:31    http://www.kompasiana.com/chozin/sekilas-pengalaman-beasiswa-luar-negeri_54f73fb5a33311b2708b47b9

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like