Sandal Lily dan Kharisma Pamanku

Tiba-tiba ada sandal Lily di depan kamarku. Entah siapa yang membawanya ke sini, yang jelas Lily warna coklat itu mengingatkanku pada masa kecilku. Srek…srek….srek…, begitu bunyi sandal itu bergesekan dengan tanah ketika dipakai. Suara itu masih jelas terngiang ditelingaku, mengingatkan pada masa kecilku. Sandal itu biasa kujadikan alasku kakiku menuju ke musholla. Ah, ingatanku menjalar, menyusuri serpihan-serpihan sejarah masa kecil. Masa dimana kehidupan desa masih sangat damai, meski tanpa gemerlap nyala listrik seperti saat ini.

Ya,….Lily adalah merk sandal yang paling populer di kampungku. Setiap lebaran tetangga-tetanggaku berbondong-bondong ke pasar untuk membeli sandar merk ini. Menjelang lebaran, anak kecil pasti merengek-rengak minta dibelikan sandal Lily. Warnanyapun bermacam-macam, ada yang biru, merah hati, hijau dan juga coklat. Yang coklat ada dua model, model anak muda dan model orang dewasa. Yang model orang dewasa – sepertinya – bahannya lebih  berkualitas, harganya tentu juga lebih mahal. Namanya juga khas, sandal Lily Si Pitung, meminjam nama pendekar Betawi yang legendaris itu. Mungkin pada zaman kolonial dulu, model sandal itu memang yang dipakai Si Pitung.

Saking populernya, bagi orang yang merantau, sandal Lily merupakan oleh-oleh yang sangat didambakan. Kulihat kakek, ayah dan tetanggaku begitu gagahnya memakai sandal Lily. Demikian juga teman-temanku, akan bagga jika bisa menggunakan sandal Lily untuk pergi ke langgar(musholla) setiap magrib tiba. Sebuah kebanggaan yang setara dengan anak-anak sekarang datang ke pesta hajatan dengan mengenakan sandal bermerk Carvil, Homyped, Yongky Komaladi atau yang lainnya.

Berbeda dengan model sandal gunung sekarang lagi ngetren, sandal Lily terbuat dari bahan plastik yang  kuat,  pada bagian bawahnya di beri bantalan semacam karet agar terasa empuk. Karena bahannya dari plastik, kalau dipakai untuk perjalanan jauh bisa menjadikan kaki kita lecet-lecet dan berdarah. Tapi orang zaman dulu kakinya kuat. Lecet tidak masalah, yang penting trendy!

Karet yang dipakai menjadi bantalannya, jika sering dipakai terus, kelamaan akan terkikis-menipis. Karet yang tipis itupun permukaan bawahnya menjadi halus, tak ada kasar-kasarnya lagi. Kalau sudah seperti ini, pemakai sandal Lily harus ekstra hati-hati, terutama jika akan pergi ke kamar mandi. Salah-salah bisa tergelincir dan jatuh. Jatuh tergelincir dengan sandal Lily bisa lebih fatal dibanding jatuh dengan sandal lain. Aku pernah menyaksikan teman sepengajianku, ketika akan mengambil air wudlu di untuk berjamaah shalat maghrib di langgar, tiba-tiba jatu tersungkur membentur tembok di pinggir sumur. Zaman dahulu, sumur tidak memakai pompa (jet pump) seperti sekarang. Sumur adalah galian tanah berdiameter 2 meter, sedalan 5-10 meter. Air diambil dengan menggunakan ember (timba) yang diikat dengan tali yang digantungkan ke sebuah katrol. Kami menyebutnya sumur jubin.

Aku penah menyaksikan temanku terpelesest di pinggir sumur itu ketika sedang menimba air, gara-gara sandal Lily-nya sudah tipis. Iiih,… ngeri sekali, mukanya jontor, dagunya berdarah, tangannya kesleo. Beruntung dia terjatuh di lantai dan tidak masuk sumur. Coba kalau masuk sumur, bisa tamat riwayatnya.

Kembali ke soal sandal Lily, warna sandal Lily yang paling ku suka adalah biru. Setiap kali aku minta ibuku membelikan, pasti yang kuminta warnanya biru. Sandal itu terasa begitu indahnya ketika dipadu dengan sarung warna putih bergaris kotak-kotak. Orang kampungku menyebutnya sarung palekat. Lalu, kami anak kecil, sering memplesetkannya menjadi sarung sarung malaikat. Dalam imajinasi kami –anak kecil- sarung itulah yang dipakai malaikat. Malaikat adalah mahluk Tuhan yang tinggi besar dengan menggunakan pakaian serba putih, termasuk memakai sarung malaikat yang berwarna putih itu.

Seorang laki-laki, akan terlihat berwibawa jika mengenakan baju taqwa (baju koko) berwarna putih, sarung palekat, dan tentunya sandal Lily. Pamanku, yang selalu menjadi imam sholat lima waktu di langgar adalah orang yang paling berwibawa di mataku. Ia selalu mengenakan setelan baju koko warna putih, sarung palekat, dan sandal Lily. Ya,… sandal Lily adalah simbol kemapanan, kematangan, dan kharisma.

Dan sore tadi, tiba-tiba muncul sandal Lily persis di depan pintu kamarku. Entah siapa yang membawanya, aku tak tahu. Kali ini bukan warna biru sebagaimana kesukaanku dulu, tetapi berwarna coklat. Modelnya pun bukan yang trendy gaya anak muda, tetapi model Si Pitung, si petarung Betawi itu. Jangan-jangan ini pesan dari pengirim sandal itu, bahwa sudah saatnya aku bertarung? []

12.05.14 19:16:00    http://www.kompasiana.com/chozin/sandal-lily-dan-kharisma-pamanku_54f7591aa33311d4358b45fc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like