Pejabat Selingkuh: Berkaca Kasus Gubernur New York

Oleh: Muhammad Chozin

Negara Bagian New York, USA, pernah dihebohkan oleh berita mengenai Gubernurnya bernama Eliot Spitzer (48) yang mengundurkan diri karena kasus prostitusi. Dia telah terbukti menghabiskan uang puluhan ribu dollar untuk memuaskan hasrat nafsu seksualnya dengan seorang cewek panggilan bernama Kirsten bulan Februari 20108. Di sebuah hotel bernama Mayflower, Washington DC, ia tertangkap basah menyalahgunakan jabatan publiknya tersebut. Akhirnya, dia terpaksa harus turun dari jabatan ke-gubernurannya, dan menyerahkannya kepada orang gubernur baru bernama David Paterson.

Spitzer yang terkenal dengan sebutan Mr. Clean karena program antikorupsi dan anti-women trafficking, justru termakan oleh janji-janjinya sendiri. Terhadap kampanye anti-korupsinya, dia justru terbukti melakukan korupsi uang negara untuk kepuasan sendiri. Terhadap program anti-women trafficking-nya, dia adalah salah satu konsumen dari sebuah bisnis wanita papan atas.

Spitzer telah menggunakan program-programnya idealisnya justru untuk menutupi kebobrokan moralnya sendiri. Dia menggunakan jargon-jargon moralisnya untuk menutupi tabiat-tabiat amoralnya. Seperti orang-kebanyakan bilang: “Copet berteriak copet, agar tidak dituduh pencopet.”

Melihat fenomena tersebut, saya merefleksikannya dengan para pemimpin di negeri ini. Tidak jarang kita melihat pejabat (dan juga aktivis LSM kelas atas) menjual program-program idealis seperti anti-korupsi, anti-narkoba dan sebagainya. Banyak sekali para anggota DPR, pejabat pemerintah, tokoh LSM, dan para intelektual berkampanye dari satu podium ke podium yang lain, dari satu media ke media yang lain, dan dari satu seminar ke seminar yang lain, menjual program-program idealis. Sudahkan kita bertanya kepada pejabat-pejabat kita: apakah mereka juga terbebas dari korupsi? Jangan-jangan mereka berteriak anti-korupsi agar tidak dituduh korupsi, teriak anti narkoba justru konsumen narkoba. Ah,…barangkali, lebih baik kita mempunyai pemimpin yang cacat secara fisik tetapi sehat secara ruhani, dari pada sehat fisik tetapi cacat ruhani.

*Artikel ini dimuat di HMINEWS.COM, edisi 13 Maret 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like