Kalimat-Kalimat Optimistik dalam Pancasila

Oleh: M Chozin Amirullah*

Sudah sejak ‘dari sononya’ bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk. Sebelum datangnya penjajah Barat, wilayah Nusantara yang terbentang dari semenanjung Malaya sampai ke ujung timur Papua, terdiri dari berbagai suku bangsa yang sangat dinamis terhubung melalui jalur transportasi dan komunikasi maritim. Keberagaman yang dinamis itu luluh lantak semenjak Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris datang mengkapling-kapling wilayah Nusantara dalam kuasa kolonialistiknya. Wilayah Nusantara terpecah menjadi blok-blok yang diatur oleh kekuasan kolonial yang saling berseteru satu sama lain selama lebih dari 300 tahun. Kesadaran untuk mengembalikan aset keberagaman Nusantara tersebut muncul setelah beberapa wilayah yang dikuasi Belanda menemukan sebuah ‘common sense’ tentang kesamaan nasib sebagai ‘yang ditindas’, sehingga muncul kebutuhan untuk menciptakanplatform bersama menjadikan keberagaman tersebut sebagai aset persatuan.

Pancasila hadir sebagai buah dari ekstraksi pemikiran para anak zaman yang gelisah akan kondisi ketertindasan. Mereka yang datang dari berbagai latar belakang tersemai bersama dalam situasi transisi kelimbungan kekuasaan kolonial Belanda dan kemudian diambil alih oleh kekuasaan baru Jepang yang hanya bertahan kurang lebih dari tiga ahun. Generasi muda ‘hybrid‘ yang telah terbekali dengan intelektualisme multidimensional berbalut pengalaman aktivisme era revolusi berhasil melakukan ekstraksi pemikirannya dan dituangkan bersama-sama dalam sebuah adonan ideologi kebangsaan bernama Pancasila. Lima lima prinsip dasar yang tertuang dalam Pancasila mampu merangkai keragaman Nusantara dalam satu anyaman bernama Negara Kesantuan Republik Indonesia (NKRI).

Sekilah Lahirnya Pancasila

Jika kita tilik ke belakang, Pancasila lahir dari suatu proses inkubasi – yang secara tidak sengaja – diciptakan oleh penguasa kolonial Jepang yang baru saja melakukan ‘take over‘ dari kolonialisme Belanda. Demi memberikan ‘angin segar’, Jepang menghembuskan janji-janji manis kemerdekaan, yang salah satunya diwujudkan dengan membentuk Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

BPUPKI yang beranggotakan dari 67 orang, dilantik tanggal 28 Mei 1945 dan bersidang selama 3 hari (29 Mei – 1 Juni 1945). Pada tanggal 29 Mei 1945, Muhamamd Yamin memaparkan merumuskan lima dasar-nya, mengenai: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Secara eksplisit Yamin menyatakan bahwa kelima dasar yang dirumuskan itu berakar pada sejarah, peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia.

Selanjutnya, tanggal 31 Mei 1945, Prof. Soepomo juga memaparkan pokok-pokok pikirannya:

  1. Negara Indonesia merdeka hendaknya merupakan Negara nasional yang bersatu dalam arti totaliter atau integralistik. Maksudnya Negara Indonesia merdeka tidak akan mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar, akan tetapi yang mengatasi segala golongan, baik golongan besar maupun golongan kecil.
  2. Setiap warganegara dianjurkan takluk kepada Tuhan, supaya tiap-tiap waktu ingat kepada Tuhan. Dalam Negara nasional yang bersatu urusan agama akan diserahkan kepada golongan-golongan agama yang bersangkutan.
  3. Mengenai kerakyatan beliau mengusulkan agar dalam pemerintahan Negara Indonesia harus dibentuk sistim Badan Permusyawaratan. Oleh karena itu kepada Negara harus berhubungan erat dengan Badan Permusyawaratan agar mengetahui dan merasakan keadilan dan cita-cita rakyat.
  4. Dalam lapangan ekonomi, Prof. Soepomo mengusulkan agar sistim perekonomian Negara nasional yang bersatu itu diatur berdasarkan asas kekeluargaan. Asas ini merupakan sifat dari masyarakat timur, termasuk masyarakat Indonesia.
  5. Mengenai hubungan antar bangsa mengusulkan supaya Negara Indonesia bersifat Negara Asia Timur Raya yang merupakan anggota dari pada kekeluargaan Asia Timur Raya.

Kesempatan terakhir diberikan kepada Sukarno,  tanggal 1 Juni 1945 mengemukakan lima dasar pemikiran yang kemudian diberi nama “Pancasila”, sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Istilah Pancasila itulah yang kemudian manjadi nama resmi dasar negara kita.

BPUPKI tidak hanya bekerja sampai di sini, setelah melakukan sidang fase pertama, dibentuklah panitia kecil yang terdiri dari 8 orang, untuk menampung usulan-usulan tambahan yang masuk dan menyampaikannya kembali ke sidang BPUPKI pada tanggal 22 Juni 1945. Pada sidang gabungan tersebut, kembali dibentuk panitia kecil beranggotakan 9 orang, diantaranya Sukarno, Hatta, AA Maramis, KH Wachid Hssyim, dan sebagainya. Panitia kecil inilah yang kemudian merumuskan Mukaddimah UUD 1945, dimana lima sila dalam Pancasila secara eksplisit terkadung di dalamnya.

‘Mantra’ Kalimat Pembukaan UUD ’45

Saya ingin mengajak Anda sekalian untuk membaca kembali dan merenungkan naskah Pembukaan UUD 1945. Saya ingin Anda fokus pada diksi (pilihan kata) yang di susun oleh tim penyusunnya, betapa pilihan kata-katanya sangat kuat dan menggerakkan.

Pembukaan UUD 1945:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Membaca kembali teks Pembukaan  UUD 1945, maka akan terasa sekalai betapa kekuatan komposisi kata-kata yang digunakan sangat padat, penuh makna, bernada positif dan menggerakkan. Tentu susunan kata-kata tersebut tidak disusun begitu saja tanpa mempertimbangkan efek ‘mantra’ dari makna-maknanya. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa kalimat-kalimat dalam pembukaan UUD ’45 memang disusun melalui suatu kontemplasi yang dalam dan esoteris.

Demikian juga, bahasa-bahasa yang digunakan selalu merupakan bahasa yang postif sehingga menimbulkan efek pengharapan bagi pembacanya. Coba kita baca ulang kalimat ini:

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

Terasa sekali nada positif dan opitimisme yang dibangun oleh para penyusun naskah tersebut. Indonesia dibentuk bukan untuk memberantas kemiskinan, tetapi untuk memajukan kesejahteraan umum. Memberantas kebodohan, melankan mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan untuk berperan dalam percaturan dunia, melainkan untuk melaksanakan ketertiban dunia.

Belajar dari naskah teks tersebut, pada akhirnya, saya ingin berpesan bahwa sesungguhnya Pancasila yang kita jadikan sebagai Dasar Negara kita ini pada dasarnya adalah suatu kekuatan sekaligus janji dari parafounding fathers, yang harus dilanjutkan oleh para generasi muda. Ialah janji untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam rangka turut melaksanakan ketertiban dunia. wallahu a’lam bisshawab.


*Penulis adalah alumnus Ponpes Tebuireng Jombang dan Ohio University USA. Mantan Katua Umum PB HMI, saat ini aktif di gerakan Turun Tangan .
*Artikel ini disampaikan dalam acara Talkshow Pancasila: “Pentingkah Pancasila bagi Indonesia Hari Ini?”, yang diselenggarakan atas serjasama Universitas Siswa Bangsa Indonesia (USBI) dan Institut Studi Indonesia Amerika (AIFIS) di kampus USBI Pancoran – Jakarta, 10 April 2014.

11 April 2014 08:06:58     http://www.kompasiana.com/chozin/kalimat-kalimat-optimistik-dalam-pancasila_54f7acd1a33311181d8b46b0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like