Jokowi Tour de’ Pantura III: Cirebon-Majalengka-Brebes

Ini adalah bagian cerita dari perjalanan sebulan mengikuti kampanye Jokowi keliling Indonesia. Bersama 8 anggota tim lainnya, saya berkesempatan mengalami secara langsung haru-biru blusukannya Jokowi menyapa dan meyakinkan calon pemilihnya.

Bagian ini adalah edisi hari ketiga dari rangkaian kampanye Tour de’ Pantura Jawa, 16-19 Juni 2014. Kampanye di Pantura Jawa meliputi: Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Semarang dan berakhir di Solo. Selamat menikmati.

Day #3

Cirebon – Majalengka – Brebes

Jokowi memulai aktivitas kampanye dengan ‘door-stop’  press conferencedi tempatnya menginap, Swiss-Belhottel Cirebon. Jokowi berbicara soal hal yang tak pernah lekang dari infrastruktur jalan. Sebagaimana kita ketahui, ada proyek abadi yang menelan dana minimal satu trilyun rupiah per tahun untuk memperbaiki jalan Pantura. Tahun ini, bahkan, anggarannya mencapai 1,8 trilyun untuk perbaikan jalan di Pantura.Jokowi menyatakan bahwa kondisi jalan Pantura sudahoverload. Tekanan dalam jalan itu sangat berat makanya cepat rusak. Saat ini sudah tidak layak digunakan untuk distribusi logistik. Oleh karena itu, Jokowi berencana untuk mengkonsentrasikan distribusi logistik dengan jalur laut dan kereta api. Ini selaras dengan visi-nya mengenai pembangunan berorientasi maritim dimana toll laut akan menjadi salah satu andalan dalam transportasi laut.

“Manajemen distribusi logistik yang baik itu adalah melalui laut dan kereta. Di negara manapun distribusi logistik itu melalui laut dan kereta. Ini yang harus kita lakukan ke depan,” ujar Jokowi.

Jikapun melalui darat, maka distribusi logistik yang ideal adalah melalui kereta api. Menurut Jokowi, tak ada alasan pemerintahan ke depan untuk tidak membangun jalur kereta dalam mengangkut logistik. Jalur kereta juga dapat digunakan untuk pengangkutan batubara dan hasil pertanian. Jika jadi presiden, Jokowi berjanji akan menerapkan double-track untuk semua jalur kereta api.

Istighozah di Majalengka

1406417616318253584
Video istighosah di Majalengka

Selesai konferensi pers, kami langsung menuju Malajengka, yang terletak lebih kurang 50 km dari Cirebon ke arah barat lalu ke selatan. Butuh satu jam lebih untuk ke sana, karena kami sengaja mutar-mutar dulu di Cirebon untuk membagi-bagikan kaos. Perjalanan ini sepertinya memang tidak efisien, kami sudah sampai di Cirebon, tetapi harus balik lagi ke arah barat dan kemudian kembali lagi ke timur. Tetapi tak ada yang sia-sia dalam perjalanan kampanye. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Jokowi memanfaatkan untuk menyapa orang dari dalam mobil sambil membagi-bagikan kaos. Dan seperti biasanya, masyarakat sudah menunggu di sepanjang pinggir jalan yang dilalui Jokowi untuk mendapatkan ‘lemparan’ kaos, langsung dari tangan Jokowi.

Sekitar pukul 10 kami baru sampai di Majalengka. Jokowi menghadiri acara istigasah di Lapangan GGM, Majalengka. Acara itu dihadiri oleh ribuan massa yang kebanyakan adalah ibu-ibu dari berbagai kelompok pengajian. Seperti biasanya, Jokowi membuka orasi dengan memberikan klarifikasi seputar isu-isu miring yang selama ini dialamatkan pada dirinya.

Menjelang penutupan, seperti biasanya, Jokowi selalu memberikan wejangan disertai dengan simulasi agar pendukungnya mendatangi tetangga atau saudaranya untuk dipengaruhi agar memilih pasangan capres nomor 2 pada Pipres 9 Juli nanti. Segmen ini menjadi paling menarik bagi hadirin karena melibatkan mereka secara langsung. Beberapa ibu naik ke panggung untuk mensimulasikan bagaimana cara mempengaruhi orang lain agar memilih pasangan capres nomor 2.

Berikut ini adalah salah satu video-nya: http://www.youtube.com/watch?v=jW24pvPIQzI Deklarasi Relawan Cirebon

14064184181496949175
Video deklarasi di Cirebon

Selesai dari Majalengka, kami meluncur kembali ke arah Cirebon. Jokowi menuju sebuah lapangan Tegalsari, Plered, Kabupaten Cirebon. Deklarasi relawan pendukung Jokowi yang terdiri dari berbagai elemen kelompok relawan dan berasal dari Cirebon dan sekitarnya.

Selesai deklarasi, dilakukan juga doa bersama serta penyerahan sumbangan senilai 85,2 juta rupiah yang dikumpulkan dari masyarakat, termasuk para nelayan pemulung, tukang becak dan tukang jamu. Pemberian sumbangan dilakukan secara simbolik, karena dananya sudah disetorkan langsung ke rekening kampanye Jokowi-JK.

Berikut ini adalah video rekaman berita metroTV mendokumentasikan acara deklarasi relawan di Cirebon: http://youtu.be/1SmopRSyyMQ

Pada saat yang sama, relawan merah putih pasangan capres Prabowo-Hatta juga melakukan deklarasi. Deklarasi tidak dihadiri oleh Prabowo ataupun Hatta, melainkan oleh mantan wakil walikota Cirebon Sunaryo HW, yang belum lama bebas dari penjara. Ia divonis satu tahun penjara terkait kasus penyelewengan dana APBD Kota Cirebon senilai Rp 4,9 miliar.

Sementara Jokowi menghadiri acara di alun-alun, tim dan rombongan wartawan diarahkan menuju rumah makan khas Cirebon, Empal Gentong Mang Dharma. Tidak sebagaimana hari-hari sebelumnya, makan siang kali ini lumayan tidak terlalu terlambat, meskipun tanpa Jokowi. Terus terang kami tidak tahu, apakah siang itu Jokowi makan siang atau tidak, karena beliau tidak makan siang bersama kami sebagaimana biasanya.

Batik Trusmi

1406417751686333524
foto by @imangjasmine

Selesai Jokowi menghadiri acara deklarasi, selesai pulalah kami menyantap soto khas Cirebon tersebut. Kami diarahkan menuju pusat grosir Batik Trusmi yang terletak di Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon. Lokasinya yaitu sekitar 4 km dari Kota Cirebon kearah barat menuju Kota Bandung. Terdapat lebih dari 3000 tenaga kerja atau pengrajin batik yang berasal dari beberapa daerah yang ada di sekitar desa Trusmi, seperti dari Desa Gamel, Desa Wotgali, Desa Sarabau dan Desa Panembahan.

Jokowi menyempatkan bertandang ke Toko Pesona Batik. Jokowi sempat membeli beberapa baju dan bahkan berlatih membatik dengan salah seorang pemilik batik.

Jokowi mengungkapkan gagasannya untuk mengintegrasikan pariwisata Cirebon dengan Bandung. Menurut Gubernur DKI Jakarta non-aktif ini terbuka peluang luas bagi pariwisata Kota Udang untuk mengintegrasikan diri dengan Kota Kembang.

“Industri kreatif berbasis budaya seperti batik ini harus dikaitkan dengan kepariwisataan. Kalau kita bicara itu, di Bandung sudah mendahului makanya kita perlu buat integrasi antara pariwisata Bandung dengan Cirebon. Wisatawan di Bandung juga harus ditarik ke Cirebon. Kita juga harus memperlama kunjungan wisatawan ke Bandung dan Cirebon sehingga industri perhotelan, kerajinan khususnya industri kreatif dan transportasi seperti taksi”, ungkapnya.

Keraton Kasepuhan

14064180112004529215
foto by @imangjasmine

Kami sampai di Keraton Kasepuhan sekitar pukul 16.00 WIB. Jokowi disambut hangat oleh Sultan Kasepuhan XIV Pangeran Arief Natadiningrat. Menurut Pangeran Arief, pasangan Jokowi JK ini hendaknya mewakili beberapa pesan yang ditinggalkan Sunan Gunung Jati: pertama, titip Tajuk (musholla) yang pengejawantahannya bisa diartikan menitipkan moral dan akhlak. Kedua, titip Fakir Miskin, ialah menitipkan agar bangsa ini dapat hidup adil dan sejahtera.

Terima kunjungan Jokowi, bukan berarti menghilangkan netralitas Keraton. Keraton Kasepuhan Cirebon menyatakan tetap netral pada Pilpres. Sultan Arif tetap meminta semua masyarakat Cirebon untuk aktif berpartisipasi dalam Pilpres.

Namun demikian, menurut Jokowi, pernyataan Sultan Cirebon tentang netralitas keraton bersayap. “Pak Sultan tadi bilang harus netral tapi tangannya begini terus (sambil mengacungkan dua jari),” kata Jokowi sambil bergurau.

Rupanya, meskipun menyatakan netral, kode dua jari Sultan cukup mudah diartikan oleh warga Kasepuhan. Buktinya saat Pasangan Capres dan Cawapres Jokowi-Jusuf Kalla, unggul di TPS Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, pada pelaksanaan pencoblosan pilpres 2014. Di TPS Pagelaran pasangan Jokowi-JK meraih 215 suara sedangkan Prabowo-Hatta hanya 100 suara.

Pengajian Jamaah Akar Jati

14064181571228103494
foto by @imangjasmine

Perjalanan dilanjutkan menghadiri pengajian menyambut kedatangan bulan suci Ramadan bersama jamaah Akar Jati Pimpinan KH Maman Imanulhaq. Acara pengajian diselenggarakan di Graha Pena, kantor media cetak Radar Cirebon. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 21.0.00 WIB. Ratusan jamaah nampak memadati pelataran gedung milik jaringan bisnis Dahlan Iskan tersebut.

Jokowi tidak banyak pidato, acara lebih banyak diisi dengan lantunan shalawat dan taushiyah oleh beberapa ulama dan tokoh masyarakat setempat.

Berikut ini adalah video acara pengajian di Graha Pena Cirebon:http://youtu.be/fN4TZXTCM7g

Alun-alun Brebes

Foto: kompas.com
Foto: kompas.com

Perjalanan menuju Tegal, Jokowi menyempatkan mampir ke alun-alun Brebes. Di sana sudah menunggu ribuan masyarakat dari berbagai kecamatan di Brebes. Padahal waktu menunjukkan sekitar jam 23.00. Lokasi alun-alun yang persis di samping jalan pantura arah Jakarta – Tegal, padatnya massa menimbulkan kemacetan total di jalan. Untungnya, podium yang disediakan untuk Jokowi berada di bagian ujung paling jauh dengan jalan.

Meskipun malam, kali ini Jokowi menyempatkan untuk memberikan orasi pendeknya. Seperti biasanya, Jokowi mengawali orasi dengan klarifikasi, tertama terkait dengan isu-isu SARA.

“Katanya saya ini Bapak saya keturunan dari Singapura, ‘njenengan percoyo mboten? Bapak kula niki asale saking Karanganyar, kira-kira 40 kilometer dari Solo, ibu saya saking Boyolali kira-kira 30 kilometer dari Solo. Dadhos kula niki anake tiyang ndesok kluthuk.” Demikian petikan bagian orasi Jokowi dalam bahasa Jawa. Brebes memang sudah masuk wilayah Jawa Tengah, tentu akan lebih akrab jika komunikasi menggunakan bahasa Jawa.

Terkait dengan isu tunjangan sertifikasi guru, yang katanya akan dicabut jika Jokowi jadi presiden, sekali lagi ia menjamin bahwa hal tersebut tidak akan dicabut. Lebih lanjut Jokowi juga membicarakan soal nasib guru-guru madrasah yang menurutnya perlu diperhatian juga.

Kalau difikir, meskipun terkesan berulang-ulang, klarifikasi Jokowi terkait dengan isu-isu miring (terutama mengenai ke-Islam-annya) cukup berhasil untuk mengembalikan kepercayaan calon pemilih yang sempat tergerus oleh black campaign, fitnah mengenai dirinya. Hasil survei Indobarometer kemudian menyatakan bahwa ternyata pemilih Islam mayoritas masih ke Jokowi-JK (49,9%) dibanding Prahara (37,4%). Terutama di kalangan santri tradisional (NU), mayoritas masih ke Jokowi-JK (54,1%) dibanding Prahara (38,1%). Demikian pula santri modern (Muhammadiyah) meski angkanya beda tipis (PrabowoHatta 41,8% vs JokowiJK 47,3%).

Sebelum meninggalkan Alun-alun Brebes, Jokowi mendapat kenang-kenangan berupa selendang batik tulis khas Kecamatan Salem dari Bupati Brebes Idza Priyanti. Di Brebes, Jokowi menargetkan perolehan suara hingga 70 persen.

Kami meninggalkan alun-alun Brebes tengah malam menuju kota Tegal untuk istirahat. Dalam perjalanan, kami mampir di resto Waroeng Daoen untuk makan malam. Di Tegal, kami menginap di Tegal Inn. []

27 Juli 2014 14:00:22     http://www.kompasiana.com/chozin/jokowi-tour-de-pantura-iii-cirebon-majalengka-brebes_54f6970da3331184108b5129

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like