Jokowi Tour de’ Pantura II: Purwakarta-Subang-Indramayu

Ini adalah bagian cerita dari perjalanan sebulan mengikuti kampanye Jokowi keliling Indonesia. Bersama 8 anggota tim lainnya, saya berkesempatan mengalami secara langsung haru-biru blusukannya Jokowi menyapa dan meyakinkan calon pemilihnya. Bagian yang akan Anda baca adalah edisi hari kedua dari rangkaian kampanye Tour de’ Pantura Jawa, 16-19 Juni 2014. Kampanye di Pantura Jawa meliputi: Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Semarang dan berakhir di Solo. Selamat menikmati.

*

Day#2 Purwakarta-Subang-Indramayu

– Rute roadshow kampanye hari ke-2 Pantura adalah Purwakarta, Subang, dan Indramayu. Jam 7 pagi, kami sudah standby. Sebelum berangkat, Jokowi melakukan door stop wawancara media. Ini rutin dilakukan selama perjalanan, selesai sarapan pagi para wartawan dipersilahkan melakukan wawancara langsung. Ada sekitar 30-an awak media nasional – dan beberapa internasional – yang selalu mengikuti perjalanan kampanye Jokowi. Sekitar pukul 09.00 iring-iringan mobil kampanye digeber ke arah selatan menuju Kabupaten Purwakarta. Pakem iring-iringan mobil kampanye adalah: paling depan mobil sedanvoorijder milik polisi, diikuti oleh sekitar 5 – 8 jenis kijang innova. Satu mobil diisi oleh Jokowi (bersama keluarga/pendamping lainnya), dua mobil oleh tim keamanan dan ajudan, dan lainnya diisi oleh anggota tim. Di barisan belakang barulah diikuti mobil media (biasanya jenis bus), mobil box, dan mobil-mobil pengiring lokal. Kami menembus kepadatan lalu lintas menuju Purwakarta yang jalannya memang tidak terlalu lebar. Perjalanan yang lumayan jauh dan jalanan yang padat merayap, terutama pada simpul-simpul kerumunan seperti pasar atau kompleks sekolahan, dimanfaatkan oleh Jokowi menyapa masyarakat sambil ‘melempar’ kaos. Strategi ‘lempar kaos’ ala Jokowi ini belum pernah dilakukan oleh orang lain. Setidaknya, itu sepanjang pengetahuan saya. Saat mobil sedang melaju agak kencang, maka Jokowi akan melempar kaos tersebut kepada orang-orang di pinggir jalan dan atau pengendar lainnya. Saat mobil dalam keadaan melaju lambat, maka Jokowi langsung membagikannya dari tangan ke tangan. Jika ada kerumunan massa, tak jarang Jokowi tiba-tiba keluar dari mobil  dan bersalaman langsung dengan masyarakat. Ini gaya khas Jokowi yang saya rasa jarang dimiliki oleh politisi lainnya. Ia selalu ingin dekat, tak berjarak dengan masyarakat. Situasi ini tak jarang membuat ‘kerepotan’ anggota security guard yang bertugas mengawal Jokowi. Sebagaimana disyarat oleh KPU, selama kampanye resmi ini, negara menyediakan pengamanan dari kepolisian untuk mendampingi selama kampanye. Tapi Jokowi adalah Jokowi, ia seolah tidak pernah peduli dengan keamanannya dirinya sendiri. Ia lebih tertarik untuk interaksi langsung begitu melihat ada kerumunan masyarakat yang ingin menyapanya. Momen ketika Jokowi melempar atau membagikan kaos selalu menciptakan kehebohan tersendiri di pinggir jalan. Betapa tidak, orang-orang yang mendapatkan lemparan kaos tersebut pasti akan teriak histeris kegirangan dan menciptakan suasana ‘gaduh’. “Aaaw,…. dapat kaos dari Pak Jokowi,…. Iya Pak Jokowiiii…!” Teriakan tersebut pasti akan mengudang yang lain yang lain untuk lari mengejar dan meminta lemparan kaos. Dan begitu seterusnya sehingga saat mobil berjalan lambat masyarakat bahkan berlarian mendekat, mengerubuti, untuk bisa bersalaman dan mendapatkan tanda mata langsung berupa kaos bergambar Jokowi-JK. Tak penting kaos tersebut bahannya sederhana dan murah, tetapi mendapatkannya secara langsung dari tangan Jokowi adalah hal yang tak terlupakan. Saya yakin, mereka pasti akan simpan kaos tersebut sebagai kenang-kenangan sepanjang hidup.  Bahwa dalam fase hidup mereka yang orang biasa, pernah bertemu, bertatapan, bersalaman dengan orang – yang sebentar lagi – akan menjadi nomor satu di negeri ini. Dan kaos itu adalah sebagai buktinya, sebagai tanda mata. Kelak mereka bisa bercerita kepada anak/cucu bahwa kaos putih berlengab merah bergambar Jokowi-JK adalah pemberian langsung dari Pak Presiden! Kami, tim di belakang Jokowi, memang berusaha sejarang-mungkin turut membagi-bagikan kaos. Jikalah tidak dalam kondisi memaksa (misalnya saat kerumunan terlalu banyak), kami berusaha untuk tidak turut campur membagikan kaos. Biarkan Jokowi saja yang membagikan, karena itu yang membuat istimewa, masyarakat mendapatkan kaos Jokowi-JK langsung dari tangan Jokowi. Adapun tugas tim logistik dari kami adalah memastikan agar stok kaos di jok belakang mobil Jokowi tidak pernah kosong. Saat Jokowi sibuk membagi-bagikan kaos, tim logistik – dan pada situasi super sibuk, bahkan team keamanan – berlari-larian mensuplai stok kaos yang diambil dari mobil box. Dalam rombongan memang ada satu mobil box yang khusus untuk mengangkut kaos. Momem-momen saat kami harus terpaksa ikut ‘lempar kaos’,  selalu menjadi momen paling menghibur di sela-sela perjalanan yang super melelahkan. Ada sebuah sensasi tersendiri ketika melempar. Saat melihat ekspresi kegembiraan orang yang terkena lemparan, itulah saat yang paling membahagiakan buat kami, yang melemparkannya. Saat dapat lemparan kaos, orang-orang pasti langsung teriak histeris, “Jokowiii….. nomor duaaaaa…!!!” (sambil dua jarinya diacungkan ke atas). Tak sedikit dari mereka yang langsung memakai kaos tersebut saat itu juga. Sering pula ada kejadian-kejadian lucunya. Misalnya, ada kejadian saat Jokowi  melemparkan kaos kepada pengendara sepeda motor. Si pengendara tersebut memang sejak dari tadi terlihat mengejar mobil Jokowi dari arah belakang, bahkan melancangi arak-arakan mobil kami yang mengiring di belakang mobil Jokowi. Saat sudah mendekati mobil Jokowi, orang tersebut langsung teriak, “Pak Jokowiii….kaosnyaaa…!”. Spontan Jokowi pun melemparkan satu kaos. Dan begitu mendapatkan kaos, saking gembiranya, ia berusaha langsung memakai kaos tersebut sambil mengendarai motor. Saat berusaha memasangkan leher kaos melalui kepala, ia tidak sadar kalau kepalanya sedang pakai helm. Tentulah kepalanya tidak bisa masuk ke krah leher kaos. Akhirnya kaos itu hanya bertengger di atas helm dan menutup kepalanya sehinggal ia hampir saja menabrak motor lain. Beruntunglah ia segera sadar dan akhirnya melepas kembali kaos tersebut. Sayang kami tidak sempat mengabadikan kejadian tersebut melalui kamera. Bicara soal ‘teknik, melempar kaos, ada berbagai macam cara kami melempar, ada yang terlebih dahulu kaosnya digulung, ada yang dibiarkan mengembang begitu saja. Jangan salah, melemparkan kaos, bagi para lelaki, ada unsur subyektifitasnya loh. Ya, maklum namanya juga laki-laki, mereka lebih bersemangat ketika melempar kaosnya diarahkan ke cewek-cewek yang bening (kasian juga tuch, kakek-kakek yang tua sering tidak kebagian lemparan ha ha ha). Dasar lelaki, saking ‘parahnya’, saat melempar, sambil mengacungkan dua jari, kadang ada yang bilang, “Neng,… yang kedua ya, Neng….? (seakan-akan bilang untuk dijadikan istri kedua, tetapi sebenarnya adalah ajakan untuk milih nomor dua). — Menyapa Rakyat Purwakarta Jelang siang, sekitar pukul 11, kami sampai lokasi acara di pusat kota Purwakarta, tepatnya di sebuah taman di tepian Situ Buleud. Disebut Situ Buleud (= bulat) dikarenakan danaunya berbentuk bulat. Saat ini merupakan landmark kota Purwakarta. Danau tersebut dibuat pada tahun 1830 oleh bupati pertama Purwakarta R.A. Suriawinata. (http://situbuleud.blogspot.com) Jokowi berorasi dihadapan ribuan masyarakat Purwakarta. Dalam orasi sekitar 10 menit tersebut, Jokowi banyak memberikan klarifikasi terhadap isu-isu miring yang selama ini sengaja disebarkan oleh pihak lawan sebagai black campaign. Diantaranya adalah klarifikasi isu yang menyatakan dirinya adalah keturunan Tionghoa dari Singapura. Isu tersebut sebagaimana termuat di tabloid Obor yang beredar luas di masyarakat. Bahwa dirinya adalah orang kampung asli Jawa. Bapaknya berasal dari Karanganyar dan ibunya dari Boyolali. “Wong wajah ‘ndeso gini koq dibilang keturunan Singapura. Percaya ‘ndaaak?”, Begitu tanya Jokowi kepada audiens. Massa pun membalas dengan pekikan: “tidaaaak!”. Jokowi juga klarifikasi black campaign yang menyatakan, jika dirinya jadi presiden maka tunjangan sertifikasi guru dan juga subsidi raskin akan dihapus. Jokowi bertanya lagi kepada audiens. “Terhadap isu-isu tersebut, Bapak ibu percaya ndaaak?” Audiens menjawab serempak: “Enggaaaak!”. “Kalo saya jadi presiden, tunjangan sertifikasi dan raskin tidak akan dihapus. Kalau ditambah dan kualitasnya diperbaiki, iya…! Jadi, itu fitnah. Kenapa banyak fitnah kepada saya? Karena mereka bingung mencari kesalahan-kealahan saya dan Pak JK”, tukas Jokowi. Jokowi meyakinkan masyarakat bahwa dirinya lebih paham dengan masalah-masalah rakyat bawah, karena dirinya berasal dari kelas bawah. Waktu berumur 10 tahun, ia pernah punya pengalaman digusur: “Saya bertanya kepada Bapak saya. Pak, koq rumah kita digusur?. Kata Bapak saya: “Iya, karena akan dipakai oleh pemerintah untuk terminal. Akhirnya kami terpaksa pindah di kontrakan lain, waktu itu.” Pada penghujung orasinya, Jokowi tak lupa mengajak masyarakat agar pada tanggal 9 Juli nanti mencoblos no. 2. Ia berpesan kepada para pendukungnya agar pro-aktif mendatangi saudara dan tetangganya untuk diajak membandingkan kedua pasangan calon. Dalam simuliasi sederhana ia mencontohkan: “Tok, tok, tok. Assalamu’alaikum. Bapak/ibu, nanti tanggal 9 Juli jangan lupa mencoblos. Ada dua calon. Jokowi-JK, orangnya begini-begini. Pasangan yang satunya, orangnya ehm ehm… Bapak, kalau ingin Indonesia ke depan lebih baik, pilih yang begini!” — Tak Bimbang Blusukan di Subang Lepas dari Purwakarta, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur, ke Subang. Di perjalanan, Jokowi menyempatkan mampir di Masjid Al-Hasyar Kec. Kalijati, Subang untuk sholat jamak dhuhur-ashar. Waktu itu sekitar jam 1 siang. Suasana masjid yang tadinya lengang, tiba-tiba gaduh oleh kerumunan massa yang ingin bertemu Jokowi. Mereka berkerumun di depan masjid, menunggu Jokowi keluar. Begitu Jokowi keluar, masyarakat langsung mengerubuti, berebutan bersalaman dengan Jokowi. Tak sedikit juga yang mengajak Jokowi berfoto selfie bersama. Bahkan saat Jokowi sedang memasang tali sepatunya, masih ada saja yang memanfaatkan waktu untuk foto selfie. Caranya, dengan duduk persis disamping Jokowi, dan….jepret, foto selfie sudah jadi dech. Perjalanan menuju Subang cukup memakan waktu, hal itu karena selama perjalanan Jokowi selalu memanfaatkan untuk menyapa masyarakat sambil melempar kaos. Rupanya, kebiasaan Jokowi melempar kaos kepada orang-orang di pinggir jalan sudah menyebar dari mulut-ke-mulut masyarakat. Buktinya, selalu banyak masyarakat berdiri pinggir-pinggir jalan yang dilalui Jokowi. Tak terhitung jumlah kaos yang sudah disebarkan, pastinya sudah puluhan ribu tersebar. Kami sampai di lokasi acara yang dipusatkan di alun-alun depan kantor kecamatan Pagaden, Kabupaten Subang sekitar pukul 15.00 WIB. Saat memulai orasi, Jokowi selalu membaca iftitah yang khas nahdliyyin: “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Alhamdulillahirobbil ‘alamin. Wabihi nasta’iin ‘ala ‘umuriddunya waddin. Wassholatu wassalaamu ‘alaa habibina, wasyafi’ina, Muhammadin. Wa’ala alihi wahohbihi ajma’in. [Semoga keselamatan, rahmat, dan barokah dari Allah atas kalian semua. Segala puji bagi Allah, pemelihara seluruuh alam. KepadaNya-lah kita memohon pertolongan atas urusan-urusan keduniaan dan keagamaan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada kekasih kita, penolong kita, Nabi Muhammad SAW. Juga kepada para keluarga, shahabat, dan kita semuanya.] Dalam kesempatan orasi yang selalu singkat, tak lebih dari 10 menit, Jokowi  selalu berusaha memberikan klarifikasi terhadap fitnah-fitnah yang dilancarkan terhadap dirinya. Hal itu memang tidak bisa ditinggalkan, mengingat fitnah-fitnah tersebut beredar sangat luas di bawah dan efektif mempengaruhi calon pemilih. Senyatanya, fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh lawan memang cukup menyita waktu dan energi Jokowi klarifikasi. Jikalah tanpa black campaign, Jokowi tak perlu banyak melakukan klarifikasi. Jokowi bisa optimalkan setiap kesempatan kampanye dengan content orasi yang lebih bernas bagi pendidikan politik rakyat: “Bapak/Ibu/Saudara sekalian, seluruh warga di Pagaden, Subang. Mulai dari kemarin saya muter, dari Bekasi terus masuk ke Karawang, terus ke Purwakarta, terus ke Subang ini. Wajah saya wajah ‘ndeso gak? Saya mau sampaikan ada tabloid Obor Rakyat. Disitu disampaikan Jokowi anaknya orang Singapura. Percaya, nggaaak? Ya, gak percaya, wong wajah saya ‘ndeso begini.” Jokowi juga menyampaikan ekspresi emosi kejengahannya terhadap fitnah-fitnah yang bertubi-tubi memcerca dirinya: “Saya ini juga sebenarnya bisa marah kalau terus-menerus di fitnah. Dipikir saya penakut apa? Saya gak pernah takut! Saya ini sebenarnya ingin rendah hati, ingin tawadluk. Tetapi kelihatannya, ya koq diredahkan terus. Suatu saat (jika waktunya) kita bisa kita lawan….!” Langsung disambut audiens dengan riuh tepukan seraya teriakan “Jokowi! Jokowi!! Jokowi!!!” Tak lupa, Jokowi menyampaikan inti orasi berupa konsen pada nasib rakyat kebanyakan, petani: ” Di sini adalah lumbung padi nasional. Apa benar pupuk di sini sulit? Harganya mahal?” “Hal yang berkaitan dengan petani, baik terkait puput pestisida benih, pemerintah, negara harus siapkan.” “Saya, kalau jadi presiden akan di kantor sejam dua jam saja. Yang lainnya, saya akan di kampung, di sawah, di kampung nelayan, di desa petani, di pasar. apa gak boleh? Boleh khan?” “Karena ada yang bilang,… Pak, nanti kalau jadi presiden, jangan blusukan lagi loh….! Baah, nanti saya dilapori yang baik-baik saja, gimana coba…? Kelihatanannya nanti pupuk baik, pestisida baik…..Rakyat sudah makmur semua, baiiikkk ! Haaaaah….” “Gimana pemimpin enggak pernah turun ke bawah? Pemimpin gak pernah ke lapangan, pemimpin gak pernah temui rakyatnya, gimana? Dengar keluhan dari mana, mendengar keinginan (rakyat) dari mana? Melihat penderitaan dari mana? “Jadi, gak bisa, seorang pemimpin hanya duduk di kantor. Kalau mau enak, duduk di kantor. Enak banget. Ruanganya sejuk, ber-AC, ngantuk-ngantuk, ketiduran, makan juga disediakan. “Saya sendiri, makan sehari (kadang) hanya sore aja. Kadang makan hanya jam 10 atau jam 11 malam aja. Kalau mau enak, di kantor saja. Iya, khan? Tak lupa, sebagai penutup orasi, Jokowi mengajak agar tanggal 9 Juli nanti mencoblos pasangan nomor 2. “Angkat dua jari kita…! Semuanya, semuanya….! Ingat, tanggal 9 nanti, ini (sambil angkat dua jari) yang dicoblos! Terima kasih, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” — Makan Siang Jelang Matahari Rembang Dari alun-alun Pagaden, kami melanjutkan perjalanan menuju Indramayu. Tanpa ada kesempatan bagi kami untuk sekedar makan siang. Masih banyaknya rangkain acara-acara yang harus dihadiri Jokowi. Beruntunglah driver ‘tembak’ kami begitu cekatan memacu kendaraan menelusuri jalan-jalan berkelok menuju arah Indramayu. Selama kampanye, kami memang menggunakan mobil dan driversewaan. Mengarah ke Indramayu, rencana semula adalah berhenti sebentar, makan siang. Sudah empat jam, makan siang kami terlambat. Tapi, ternyata gagal juga. Tiba-tiba Jokowi ‘dibajak’ oleh salah satu kader partai untuk orasi di Pamanukan. Sempat terjadi ketegangan kecil di tim terkait acara di luar jadwal tersebut. Apa boleh buat, Jokowi menyetujui. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, kami terpaksa harus bernegosiasi dengan perut yang sudah keroncongan agar bersabar lagi. Ribuan massa sudah menunggu. Jokowi memberikan orasi sebagaimana biasanya, singkat dan padat. Pembukaan dengan istitah ala nahdliyyin, klarifikasi, bicara soal pasar tradisional, dan ajakan mencoblos no. 2 menjelang penutupan orasi. Saat menjelang penutupan, ada pengembangan dari sebelumnya. Kali ini Jokowi miminta 3 orang perwakilan massa untuk mensimulasikan secara langsung bagaimana cara mempengaruhi saudara dan tetangga. Ada 3 orang perwakilan massa naik ke panggung, mensimulasikan cara kampanye. Acara baru selesai menjelang pukul 17.00 WIB. Perjalanan menuju indramayu, kami akhirnya berkesempatan makan siang. Kami mampir di rumah makam Ma’Pinah. Diperlukan hanya sekitar 30 menit bagi kami untuk menyantap habis seluruh makanan yang dihidangkan. Maklum, situasi kelaparan menjadikan kami kalap, sehinggap mengeksekusi hidangan dengan penuh nafsu. Kesempatan makan siang di sore hari tersebut dimanfaatkan oleh para wartawan untuk wawancara. Sejak perjalanan dari pagi, mobil rombongan wartawan seringkali tertinggal jauh di belakang sehingga mereka sering ketinggalan acara dan kehilangan berita. Kali ini mereka benaar-benar manfaatkan kesempatan, meng-explore gagasan-gagasan Jokowi. Dalam wawancara ditanyakan mengenai persoalan-persoalan di Pantura, khususnya bagi nelayan. Menurut Jokowi, persoalan nelayan itu kompleks, mereka jengah dengan berbagai kebijakan yang minim implementasi. “Kebijakan untuk nelayan sebenarnya sudah banyak, hanya saja implementasinya yang belum”, kata Jokowi. “Nelayan ini berat, kalau ikannya tidak bisa dijual, ilang harganya. mereka perlu cold storage dengan listrik yang ringan atau dengan teknologi yang lain, sehingga tidak terlalu tergantung pada listrik. Intinya, perlu cold storage yang kecil yang murah, yang tepat guna buat mereka,” imbuhnya. Termasuk dalam soal koperasi (KUD), Jokowi mengkritisi keberadaan koperasi yang seringkali tidak dirasakan manfaatnya oleh nelayan, kecuali hanya oleh segelintir pengurusnya saja. “Yang saya tangkap, mereka itu tidak kenal dengan koperasi-koperasi itu. Karena, kata mereka, yang  dapat hanya pengurus-pengurusnya saja. (Sebenarnya) banyak alternatif (disamping koperasi), misalnya dengan membuat badan usaha milik desa, dan sebagainya.” Pernyataan di atas-lah, yang kemudian ‘digoreng’ oleh pihak lawan sebagai bahan serangan saat debat capres edisi V tanggal 5 Juli. Dalam debat tersebut, pihak lawan menanyakan (lebih tepatnya men-judge) Jokowi yang menolak keberadaan koperasi. Tentu saja, Jokowi menolak pertanyaan tersebut, karena jelas salah informasi. “Mungkin Bapak salah dengan atau dapat informasi dari mana (tentang pernyataan kperasi itu)”, kata Jokowi ketika debat. Yang jelas, media (terutama yang pro pada pasangan capres no.1) memang misleading terhadap pernyataan Jokowi soal koperasi. Kutipan transkrip di atas jelas sekali tidak secara implisit Jokowi anti-koperasi. Jokowi justru mendukung keberadaan koperasi. Hanya saja, ia mengkritik keberadaannya yang belum dirasakan manfaatnya oleh nelayan secara langsung. oleh karena itu Jokowi mengusulkan revitalisasi dan menciptakan alternatif-alternatif tambahan. Hal yang sama sebenarnya juga bisa terjadi pada pernyataan Jokowi berikutnya: “Bank agro-maritim tidak didirikan tidak apa-apa, asal di BRI di revitalisasi. KUD-KUD, koperasi nelayan dihidupkan.” Pernyataan tersebut bisa saja disalahtafsirkan menjadi, seakan-akan Jokowi menolak mendirikan bank agro-maritim. Padahal dalam kesempatan yang lain, berkali-kali Jokowi menyatakan perlunya didirikan bank agro-maritim. Nah loh,…! — Menuju Indramayu Sekitar 17.30, kami melanjutkan perjalanan menuju acara selanjutnya di Karangsong, Indramayu. Perjalanan terpotong oleh masuknya waktu sholat maghrib. Kami mampir sebentar di sebuah masjid di daerah Lohbener Indramayu, untuk sholat. Rombongan yang muslim shalat berjamaah. Kami jamak shalat maghrib dengan isya’, Jokowi menjadi imam shalat. Shalat maghrib dan isya’, imam membaca Al-fatihah dan surat pendek dengan jahr keras). Jika selama ini saya hanya mendengar kesaksian orang lain mengenai bacaan Quran Jokowi, maka itulah kali pertama saya berkesempatan mendengarkan langsung bacaan sholat Jokowi. Jauh dari yang diisukan selama ini soal keagamaannya, bacaan shalat Jokowi tartil. Usai shalat, saya tak tahan untuk membuat testimoni. Saya menulis sms yang kukirim ke beberapa teman dekat, begini: “Teman2. Saat ini saya sdg mengikuti roadshow kampanye Pak Jokowi di Pantura Jawa (16-20 Juni). Baru saja kami sholat jamaah maghrib dijamak dg isya’ di masjid Hidayatul Muttaqin, Kiajaram Wetan, Lohbener, Indramayu. Pak Jokowi ngimami sholat, bacaan Quran-nya tartil. Saya saksinya!  Saya tidak habis fikir, kenapa sebagian orang masih meragukan ke-Islaman Pak Jokowi? Mudah2an kesaksian ini membantu mengecilkan fitnah yg selama ini menyebar [M Chozin Amirullah, mantan Ketum PB HMI, alumnus Ponpes Tebuireng Jombang]” Tak disangka, sms tersebut ternyata menyebar luas dan bahkan termuat di beberapa media. Tak pelak lagi, sejak malam itu, ‘gempuran’ bertubi-tubi dari pendukung lawan, dilancarkan kepada saya melalui sosial media. Facebook saya ramai oleh komen-komen yang menuduh saya hanya memberikan kesaksian palsu, hanya membebek, dibayar, dan bahkan melacurkan intelektualitas. Sebelumnya, kata-kata saya selalu dipercaya orang. Tapi kali ini tidak. Tak sedikit dari teman-teman saya yang tak mempercayai testimoni saya. Tentu, itu adalah pendukung kubu sebelah. Bagi saya, Jokowi tidak perlu diragukan ke-Islaman-nya. Syahadatnya benar, shalatnya benar, bacaannya tartil. Dalam shalat, bukankah yang disyaratkan oleh Al-quran itu adalah tartil bacaannya? “Dan bacalah al-Quran itu dengan tartil” (QS. Al-Muzzammil [73] : 4). Sayyid Quthb, dalam tafsir Fi-dzilalil Qur’an, mengartikan tartil sebagai, “membaca dengan memperhatikan panjang pendeknya dan tajwidnya; bukan dengan menyanyikan dan melagu-lagukannya, tidak berlebih-lebihan dan berasyik-asyikan dalam menyanyikan dan menyenandungkannya.” Teman-teman yang mem-bully saya di media sosial, barangkali tidak tahu apa itu tartil, apa itu fashih? Kalau saya tanya balik ke mereka, apakah capres yang mereka dukung mempraktikan Islam dalam keseharian? Koq tidak ada dokumentasi foto, video, atau audio Sang Capres ketika mengimami shalat atau sedang membaca Quran? — Deklarasi Karangsong Sekitar pukul 19.30, kami baru sampai di lokasi acara, di lapangan Yayasan Mina Sumitra, Desa Karangsong, Indramayu. Jokowi disambut ribuan massa dari berbagai elemen yang tergabung dalam Jaringan Relawan Jokowi-Jusuf Kalla (JARE JKW-JK). Sebagaiana ditulis oleh koordinator acara Ono Surono dalam web pribadinya (onosurono.com), massa berasal dari seperti nelayan, petani, buruh, mantan dan keluarga TKI, aktivis, pemuda, perempuan, komunitas ontel, paranormal, pedagang, slankers, kaum nahdiyyin, gusdurian, komunitas vespa. bikers, dan masyarakat umum lainnya. Rupanya, mereka sudah menunggu kedatangan Jokowi sejak dari jam 3 sore. Berhubung malam hari, Jokowi tidak melakukan orasi. Jokowi hanya memberikan salam pembuka, dan kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi Piagam Perjuangan Desa Karangsong, yang dibacakan oleh Ono Surono. Kami nelayan Indonesia menyatakan:

  1. Siap menjadi kawan seperjuangan Jokowi-JK untuk mewujudkan pembangunan ekonomi berbasis kelautan yang berujuan untuk mencapai kesejahteraan dan berkeadilan sosial begai seluruh rakyat Indo, termasuk bagi nelayan dan keluarganya.
  2. Kami siap menjadi kawan seperjuangan Jokowi-JK untuk mewujudkan nelayan Indonesia yang kuat, punya daya saing, mandiri dan berdikari dalam ekonomi, memiliki kepastian perlindungan hukum, termasuk dalam membangun industri perikanan yang berbasis pada penguatan nelayan lokal dengan memberikan  modal usaha dan peralatan, membangun koperasi nelayan serta kepastian jaminan sosial bagi nelayan dan keluarganya berupa jaminan kesehatan, jaminan kecelakanan kerja, jaminan  pensiun dan jaminan kematian.
  3. Kami nelayan Indonesia menyatakan siap bekerja keras mendukung dan menggaalng massa rakyat, siap menjadi relawan dan siap menjaga suara rakyat di TPS-TPS pada Pilpres 9 Juli 2014.
  4. Kami nelayan Indonesia menyatakan siap memenangkan Pilpres 9 Juli, menjadikan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden RI.

Karangsong, Indramayu 17 Juni 2014.

(dokumentasi deklarasi bisa dilihat via youtubehttp://youtu.be/WAuuZP69qO8) Ada kejadian mengejutkan saat itu. Sebagaimana dikutip oleh Tempo (17/6), panggung kampanye setinggi 120 sentimeter dan lebar 5 meter ambruk di bagian depan. Jokowi yang berdiri di sisi depan panggung untuk orasi ikut terjatuh, tapi dalam keadaan berdiri. Untuknya tanpa mengalami luka sedikitpun. Lagi-lagi ada yang mengaitkan kejadian ini dengan hal-hal tak rasional. Bahkan ada yang bersu’udhon kejadian tersebut azab dari Allah. Merespon suara-suara miring tersebut, saya hanya menjawab dengan balik menanyakan, bukankah pada waktu yang hampir bersamaan rombongan tim lawan yang sedang kampanye di Sulawesi Utara mengalami insiden? Insiden tersebut bahkan sampai menelan nyawa orbannya bukan? Apa itu juga azab? Robohnya panggung kampanye di Karangsong adalah soal teknis belaka. Kapasitas panggung tidak cukup untuk menampung ratusan massa yang naik. Di atas panggung, bukan hanya Jokowi dan tim saja yang naik, tetapi massa juga ikut naik karena ingin bersalaman dengan Jokowi. — At the End, ke Pesantren Penutup rangkaian roadshow Pantura hari ke-2 adalah kunjungan ke pesantren Darul Maarif di Kaplongan, Karangampel, Indramayu. Jokowi bersilaturrahim dengan kyai kampung se-Indramayu. Kami memasuki pesantren sekitar pukul 21.30 WIB. Lantunan sholawat badar dan yel-yel “Jokowi.. Jokowi.. Jokowi” oleh ribuan santri, menyambut kedatangan Jokowi. Jokowi sempat didoakan oleh pimpinan pesantren di depan rumah pengasuh. setelah itu, santri mengarak Jokowi dengan drumb band menuju GOR milik pesantren. Lagi-lagi Jokowi tidak orasi, karena waktunya memang sudah di luar jam kampanye. Ia hanya menyampaikan salam dan menjawab beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh perwakilan kyai pesantren. Klarifikasi isu yang biasanya sampaikan oleh Jokowi dalam tiap orasi, kini disampaikan oleh pembina pesantren KH Dedi Wahidi. “Ada yang bilang Pak Jokowi tidak Islam? Jangan dipercaya,” ujar Dedi yang disambut tepuk tangan hadirin. Mengutip perkataan Gus Dur, Kyai Dedi  juga menyampaikan bahwa Indonesia tidak akan pernah hancur karena berbeda atau karena bencana. Yang akan membuat hancur Indonesia adalah kebejatan mental kaum elit yang korup. “Oleh karena itu, kita tidak butuh pemimpin yang kebanyakan berteori tetapi pemimpin yang banyak bekerja”, pungkasnya. Pada kesempatan tersebut, dipromosikan juga Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintar, sebagai program Jokowi jika terpilih menjadi presiden. Rencana program kartu sehat dan kartu pintar itulah yang dalam kampanye-kampanye selanjutnya selalu disinggung oleh Jokowi. Acara di pesantren Darul Maarif berlangsung cukup lama. Selama acara, beberapa santri berkeliling membawa kotak sumbangan untuk Jokowi-JK. “Ini sumbangan seikhlasnya dari pesantren,” kata salah satu santri. Kami baru meninggalkan pesantren menjelang tengah malam, menuju penginapan di Cirebon. Seperti hari sebelumnya, kami baru tiba di penginapan setelah dini hari. Sejak hari pertama, Jokowi selalu menutup rangkaian kampanyenya dengan kunjungan ke pesantren. Jokowi seperti ingin bercerita bahwa dipenghujung segala aktivitasnya, pada akhirnya akan dikonsultasikan kembali dengan para alim-ulama. Disamping memiliki ilmu, ulama juga memiliki hati yang bersih dan tulus dalam membangun bangsa. [bersambung]

22.07.14 06:20:57         http://www.kompasiana.com/chozin/jokowi-tour-de-pantura-ii-purwakarta-subang-indramayu_54f69a5aa333117d028b51c6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like