Jokowi Tour de’ Pantura I: Cerita Kampanye Jokowi di Pantura

Ini adalah bagian cerita dari perjalanan sebulan mengikuti kampanye Jokowi keliling Indonesia. Bersama 8 anggota tim lainnya, saya berkesempatan mengalami secara langsung haru-biru blusukannya Jokowi menyapa dan meyakinkan calon pemilihnya.

Bagian yang akan Anda baca adalah edisi hari pertama dari rangkaian kampanye Tour de’ Pantura Jawa, 16-19 Juni 2014. Kampanye di Pantura Jawa meliputi: Bekasi, Karawang, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Brebes, Tegal, Pekalongan, Batang, Semarang dan berakhir di Solo. Selamat menikmati.

*

 

Day #1

Blusukan di Pasar Cibitung

Perjalanan pertama tour kampanye di Pantura Jawa adalah mengunjungi Bekasi, tepatnya ke  Pasar Induk Cibitung. Jokowi sampai di pasar tersebut sudah larut malam, amat jauh molor dari waktu yang direncanakan. Keterlambatan tersebut dikarenakan banyaknya acara di Jakarta yang harus diikuti oleh Jokowi, disamping situasi super macet di Jakarta.

Seorang temanku yang wartawan lokal di Bekasi menyampaikan bahwa masyarakat dan pedang di Pasar Cibitung sudah menunggu kedatangan Jokowi sejak sekitar jam 15.00 WIB.

“Jokowi bilang mau datang jam 3, gua sampe lupa makan mungguin”, katanya melalui telepon.

Dia menelepon aku saat kami baru saja akan meninggalkan Jakarta. Kami baru bisa meninggalkan Jakarta menuju Bekasi saat sore hari menjelang Maghrib, karena padatnya jadwal di Jakarta. Sebelum berangkat, Jokowi siangnya masih harus mengikuti beberapa rapat dan menemui beberapa tokoh. Belum lagi kondisi jalan Jakarta yang super macet di sore hari menjadikan perjalanan ke Bekasi tersendat dan kami baru sampai di lokasi sekitar jam 8 malam.

Sampai di Pasar Cibitung, Jokowi sudah ditunggu oleh ribuan massa yang memadati pintu gerbang pasar hingga tumpah ke jalan raya. Banyaknya massa tersebut sempat membuat jalan besar yang persis di depan pasar mengalami macet. Jikalah kami tidak di pandu oleh polisivoorijder, tentulah susah bagi kami untuk mencapai lokasi.

Kebetulan mobil yang saya tumpangi sampai 30 menit lebih awal dari mobil Jokowi, sehingga saya bisa memantau situasi psikologi masyarakat dan pedagang pasar yang sejak tadi sore menunggu Jokowi. Masyarakat memang terlihat sangat antusias menunggu kedatangan Jokowi. Meski terlihat wajah-wajah kelelahan diantara mereka, tetapi tak terdengar keluh kesah. Keinginan untuk mertemu dan bersalaman langsung dengan Jokowi memupuskan segala kepenatan mereka menunggu berjam-jam.

Konsentrasi masyarakat dan pedagang terkonsentrasi di pintu masuk pasar. Setiap kali ada mobil datang selalu di speaker ada teriakan “tolong buka jalur – tolong buka jalur”. Begitu ada mobil yang masuk mereka langsung kerubutin, kalau-kalau itu adalah mobil yang dinaiki Jokowi. Termasuk mobil yang saya tumpangi, begitu masuk ke pintu gerbang, masyarakat langsung mengerubuti. Tampak wajah kecewa mereka begitu jendela kubuka dan ternyata isinya saya,  bukan Jokowi. Haaa…

Demikian terjadi pada setiap mobil yang masuk. Beberapa kali merekakecele, mengikuti mobil tersebut tetapi ternyata bukan mobil Jokowi. Tetapi mereka tidak pernah menyerah, begitu mobil yang diikuti bukan mobil Jokowi, mereka langsung kembali lagi ke arah pintu masuk dan menunggu lagi. Begitu berulang-ulang mereka lakukan.

Mobil yang kami tumpangi memang tidak ada beda dengan mobil Jokowi. Selama sebulan penuh kampanye, kami semuanya menggunakan standar mobil yang sama, Kijang Innova. Tak terkecuali Jokowi. Sehingga dalam iring-iringan mobil kampanye kami, masyarakat tidak cukup bisa membedakan mana yang mobil Jokowi dan mana yang mobil tim-nya Jokowi.

Barulah sekitar pukul 8, Jokowi sampai di depan pasar, Jokowi langsung turun dan disambut oleh kerumunan massa. Mereka yang sudah berjam-jam menunggu kedatangan Jokowi langsung menyerbu dan mengarak Jokowi masuk ke dalam pasar. Saking padatnya massa, saya saksikan Jokowi sampai kesulitan untuk berjalan. Ia hanya mengalir mengikuti arus manusia yang berdesakan, mebawanya ke dalam pasar terbesar se-Bekasi tersebut.

Alunan suara nyanyian dangdut Jokowi mengiringi kerumunan massa. “Jokowi-jokowi orang yang sederhana, Jojowi-jokowi terkenal sedunia. Jokowi-jokowi harapan Indonesia, Jokowi-jokowi jujur dan sederhana….”. Begitu sebagian bait lagu dandhut Jokowi yang dinyanyikan oleh artis dangut Linda Moy-Moy tersebut [http://youtu.be/bnIpuIqCnGs].

Melewati jalan di dalam pasar yang becek berlumpur karena habis hujan, Jokowi terbawa arus massa yang mengarahkannya menuju panggung yang sudah di persiapkan di ujung belakang pasar. Kami pun kesulitan mengikuti Jokowi dari dekat. Jokowi seperti terlepas dari tim dan menyatu dengan para pedagang pasar. Dalam situasi seperti itu segala kemungkinan bisa terjadi. Jikalah ada yang berniat jahat, tentulah bisa dengan mudah mencilakai Jokowi karena tim keamanan sendiri terkalahkan oleh banyaknya kerumunan massa yang ingin bersalaman dengan Jokowi.

Tapi itulah Jokowi, kunjungan ke pasar tradisional adalah bagian dari ‘trademark’ blusukannya. Itu adalah perwujudan dari komitmennya pada ekonomi rakyat. Sebagaimana selalu diulang-ulang oleh Jokowi, tekadnya adalah untuk menjadikan pasar tradisional tidak kalah dengan mal-mal. Ia selalu berpesan, agar pasar tradisional bisa dikelola dengan manajemen modern sehingga menarik dan nyaman bagi semua kalangan.

Menelusuri gang-gang di dalam pasar yang becek, beberapa menit kemudian, Jokowi sudah sampai di panggung yang sudah disiapkan. Nampak anggota DPR-RI terpilih Rieke Dyah Pitaloka sudah stanby di lokasi menyambut kedatangan Jokowi. Di atas panggung, Jokowi sendiri tidak melakukan orasi karena waktu kampanye sudah lewat. Pesan-pesan tertulis Jokowi disampaikan oleh pemeran Oneng dalam serial sinetron Bajaj Bajuri tersebut.

Video Jokowi di Pasar Cibitung Bekasi

Monumen Rengasdengklok

Kami meninggalkan pasar Cibitung sekitar pukul 21.00 untuk selanjutnya menuju Karawang. Lokasi yang akan kami tuju adalah monumen Rengasdengklok, tempat di mana Sukarno dulu diculik oleh para pemuda pejuang sebelum memproklamasikan kemerdekaan RI.

Sebelum sampai di lokasi monumen, Jokowi menyempatkan mampir ke sebuah pesantren yang diasuh oleh seorang kyai nyentrik pimpinan Jamaah Dzikir Manaqib Al-baghdadi bernama KH Junaedi Albaghdadi. Bertemu dengan sang kyai rock n ‘roll tersebut, Jokowi banyak membicarakan persoalan-persoalan kebangsaan. Jokowi juga mendapatkan wejangan khusus dari kyai terkait dengan pencapresannya.

“Tadi dipesan supaya tetap rendah hati, yang sabar, dan tetap apa adanya,” demikian sebagaimana dikutip oleh media republika online, 17 Juni 2014.

Kami baru benar-benar sampai di monumen Rengasdengklok sekitar pukul 23.40 WIB dalam situasi hujan gerimis. Yang hebat, masyarakat masih berkerumun, setia menunggu kedatangan Jokowi. Meski tengah malam, situasi kampung masih ramai oleh penduduk yang sengaja ingin bersalaman dengan Jokowi.

Monumen Rengasdengklok adalah monumen untuk memperingati peristiwa “penculikan” yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara lain Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh terhadap dua Bapak Proklamator Soekarno dan Hatta. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 03.00. WIB. Dwitunggal Soekarno dan Hatta diculik dari Jakarta dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk ‘dipaksa’ mendeklarasikan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Teks Proklamasi sebagaimana yang kita sering bacakan saat upacara saat ini disusun di Rengasdengklok tersebut, tepatnya di rumah seorang keturunan Tionghoa bernama Djiaw Kie Siong. Saat itu, bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Kamis tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh Jokowi adalah napak-tilas peristiwa bersejarah dimana anak-anak muda mengambil inisiatif memanfaatkan kesempatan kekosongan kekuasaan untuk sesegara mungkin mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Jikalah tak ada inisiatif dari anak-anak muda untuk menculik Sukarno-Hatta, kemerdekaan Indonesia barangkali belum dideklarasikan sampai sekarang.

Di Rengasdengklok, anak-anak muda itu mendesak deklarasi dilakukan tanggal 16 Agustus, tetapi Sukarno keukeuh pada pendiriannya untuk mendeklarasikan pada tanggal 17 Agustus.

“Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. “Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia”, jawab Sukarno. Kira-kira itulah kutipan dialog Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok (Lasmidjah Hardi, 1984:61).

Kami meninggalkan Rengasdengklok tengah malam menuju ke arah timur, ke arah pusat kota Karawang. Idealnya memang kami langsung menuju penginapan untuk istirahat, tetapi rupanya Jokowi masih hutang janji untuk berkunjung ke satu tempat lagi. Tempat yang dikunjungi adalah sebuah pesantren NU. Jokowi tak mau mengecewakan para pendukungnya, meskipun larut malam, ia tetap berusaha menemui. Kami baru tiba di pesantren tersebut sekitar pukul 02.00 pagi dalam suasana hujan amat lebat.

Begitu sampai di lokasi, kami terkagum oleh kesabaran masyarakat yang masih dengan setia menunggu kedatangan Jokowi. Bahkan mereka rela berhujan-hujan, ada yang naik motor dan banyak pula rombongan dari berbagai desa yang naik mobil pick-up bak terbuka. Bisa dibayangkan, dalam suasana hujan lebat, mereka rela berdesak-desakan naik pick-up bak terbuka demi untuk bertemu dengan Jokowi. Bukankah itu sebuah semangat kejuangan dan pengorbanan yang luar biasa?

Kami berkunjung ke Pesantren tidak lama. Sekitar pukul 03.00 kami baru sampai di penginapan untuk istirahat. Esoknya, pukul 07.00 kami harus sudah standby untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya menuju Indramayu. Artinya, hanya 4 jam kami punya waktu istirahat. [bersambung]

20.07.14 10:09:06      http://www.kompasiana.com/chozin/jokowi-tour-de-pantura-i-cerita-kampanye-jokowi-di-pantura_54f6a28da3331194488b4599

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like