Harga Wanita

Suatu kali dalam sebuah perjalanan Yogyakarta – Pekalongan, tanteku berbicara dalam sebuah obrolan yang sebenarnya tidak serius : “Yang harus dipersiapkan oleh para ibu, untuk menjamin masa depan anak perempuannya adalah kecantikan !  anak wanita tidak perlu disekolahkan terlalu ‘serius’. Yang terpenting bagi seorang anak perempuan adalah bagaimana membuat dirinya menarik kemudian mendapatkan suami yang baik, mapan dan dapat menjamin kehidupannya di masa depan”.

Sebagai seorang yang pernah menjadi ‘aktivis’, tentu saja aku mencibir pernyataan itu. Semua bacaanku tentang gender, feminisme, wanita dalam politik, dan sebagainya cukup menjadi amunisi buatku untuk men-counter pernyataan tersebut.

Tetapi, setelah merenung sejenak, barulah aku sadar bahwa pernyataan tersebut adalah sebuah penyataan polos yang keluar dari seorang ibu rumah tangga lugu, istri dari seorang eksekutif muda cukup mapan di Jakarta. Ia tidak seperti para aktivis perempuan itu, yang kaya wacana gender dari buku, majalah, apalagi diskusi dan seminar. Wacana feminisme pasti pernah termuat dalam majalah yang menjadi langganannya, tetapi baginya itu tidak menarik. Ia lebih tertarik dengan berita selebritis dan seputar kecantikan. Pandangannya terhadap relasi sosial antara pria-wanita barangkali selama ini lebih banya dibentuk lewat sinetron-sinetron di layar kaca.

Dalam dunia modern, wanita memang bebas, bebas untuk keluar rumah, bebas menentukan nasibnya sendiri, bebas memilih pasangan hidup, bebas berkawan dengan siapapun, tetapi mereka TIDAK bebas dalam hal persepsi tentang kecantikan. Selamanya wanita akan memandang kecantikan adalah kehormatannya, harga dirinya dan penentu masa depannya.

Tetapi, tidak tahukah para wanita, bahwa dalam modernitas, kecantikan adalah konstruksi sosial; yang dalam dunia kapitalis adalah komoditas. Kecantikan dikonstruk dalam parameter-parameter kelangsingan tubuh, kehalusan kulit dan keseronokkan penampilan.

Kecantikan bahkan dijadikan sebagai alat utama untuk mendapatkan uang. Betapa tidak, dengan kecantikannya wanita merasuk, mempermainkan dan memanipulasi kesadaran pria untuk linglung dalam desiran-desiran kekaguman pada keelokannya. Setelah itu seorang pria bertekuk lutut dihadapannya untuk mempersembahkan segala.

Uang masuk ke kantong wanita melalui kerja keras seorang pria, dan wanita cuma membutuhkan alat pelicin berupa “kecantikan”. Begitulah kira-kira pandangan seorang naif yang terlalu frustasi dengan modernitas. Kapitalisme telah mampu mengontrol segala aspek dalam tiap sisi kehidupan manusia. Tak terkecuali gerakan-gerakan feminisme, kesetaraan gender dan emansipasi. Semuanya telah menjadi komoditas yang dapat diperdagangnya untuk mendatangkan uang. Selamat akhir bulan Kartini, April 2014. []

29.04.14 23:24:08   http://www.kompasiana.com/chozin/harga-wanita_54f77864a3331145678b4629

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like