Gerakan TurunTangan Bersama Anies Baswedan

MASIH terekam kuat dalam ingatan saya, saat-saat awal Anies Baswedan mendapat undangan dari Komite Konvensi Partai Demokrat untuk mengikuti Konvensi Calon Presiden dari PD. Ada belasan orang yang diundang untuk mengikuti perhelatan adu kecakapan menjadi kandidat presiden versi Partai Demokrat (PD) itu. Anies Baswedan adalah diantara beberapa figur non-partai yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Konvensi.

Waktu itu, PD memang sedang dirundung masalah terkait kasus korupsi beberapa kadernya. Tetapi bukankah Konvensi dibuat untuk mencari calon pemimpin bangsa? Konvensi adalah jalan yang benar yang ditempuh oleh partai untuk mencari sosok yang akan ditawarkan untuk memimpin bangsa ini.

Menjadi pemimpin, harus ditelusur latar belakangnya, ditanya konsep-konsep kebangsaannya dan diuji di hadapan publik. Konvensi memberikan peluang bagi siapa saja untuk ditelusur, ditanya dan diuji sebelum diangkat menjadi pemimpin. Dari seluruh Parpol yang ada, hanya PD yang berani melakukan Konvensi dan membuka peluang dari orang non-partai untuk ikut berlaga dalam arena pencapresan.

Seiring berjalanannya waktu, Anies Baswedan adalah satu di antara 11 orang yang berlaga dalam kontestasi Konvensi Capres PD. Kampanye pun dilakukan. Dengan segala keterbatasan sumberdaya, roadshow Sulawesi, Jawa, Sumatera dan beberapa pulau lain dilakukan untuk memperkenalkan gagasan-gagasan kenegaraannya. ‘Merajut Tenun Kebangsaan’ dan ‘Melunasi Janji Kemerdekaan’ adalah dua tagline yang menjadi tema besar curahan gagasan-gagasannya.

Kenapa tenun kebangsaan itu perlu dirajut kembali? karena ada tangan-tangan jahat dari anak negeri ini yang telah tega merobeknya. Mereka telah merobek tenun keberagaman bangsa nusantara ini, dengan atas nama agama, etnis, dan sebagainya. Atas nama apapun, tak ada satu orang pun yang punya hak untuk merobek tenun kebangsaan yang sudah diperjuangkan oleh founding fathers bangsa ini melalui iuran darah dan nyawa. “Negeri ini dibentuk bukan untuk melindungi kaum minoritas atau pun mayoritas; negeri ini dibangun untuk melindungi segenap warga negara.” Pesan konstitusi tersebut, selalu disampaikan oleh Anies Baswedan dalam setiap kesempatan.

Anies Baswedan juga mengajak kita untuk melunasi janji kemerdekaan: melindungi segenap anak bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kemerdekaan kita adalah utang. Utang bagi yang sudah sejahtera untuk mensejahterakan lainnya, bagi yang sudah terdidik untuk mendidik yang lainnya dan untuk aktif terlibat bekerjasama dengan bangsa-bangsa di dunia secara setara. Menjadi pemimpin adalah amanah untuk bersama-sama yang dipimpinnya melunasi janji-janji kemerdekaan tersebut.

Gerakan TurunTangan

Jauh sebelum ada undangan Konvensi, Anies Baswedan sebenarnya sudah merintis sebuah gerakan sosial-politik yang kemudian hari diberi nama Gerakan TurunTangan. Kira-kira awal tahun 2013, inisiatif gerakan tersebut mulai intens dibicarakan secara terbatas. Istilah ‘turun tangan’ sebenarnya sering dipakai ketika berbicara di depan anak-anak muda yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Mengajar. Anies Baswedan selalu mengajak smua pihak untuk mau turun tangan membenahi pendidikan di negeri ini. Istilah tersebut juga sebagai kritik terhadap kebiasaan kita banyak bicara miskin kerja, maunya hanya ‘urun angan’.

Jika Gerakan Indonesia Mengajar adalah bagian dari cara melunasi janji kemerdekaan khususnya di bidang pendidikan, maka Gerakan TurunTangan mengajak semua orang untuk mau repot-repot menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. “Kebahagiaan itu justru didapat dari repot-repot turun tangan mengurusi negeri”, pesan Anies Baswedan.

Jikalah bukan karena Konvensi PD, Gerakan TurunTangan tentu akan lebih dominan sisi sosial dari pada politiknya. Tetapi seiring dengan Anies Baswedan terlibat dalam kontestasi Konvensi, maka gerakan ini mendapatkan habitat politiknya yang subur dan akhirnya berkembang sampai pada capaian-capaian yang tak terduga sebelumnya. Gerakan TurunTangan dan Konvensi menjadi  penanda bagi proses shifting-nya Anies Baswedan dari seorang pemimpin penggerak di bidang pendidikan menjadi pemimpin penggerak di bidang politik.

TurunTangan adalah gerakan; bukan organisasi masyarakat ataupun organisasi politik. Tidak ada struktur yang rigid dari pusat ke daerah, tidak pula ada AD/ART sebagaimana organisasi atau pun parpol. TurunTangan dibentuk dengan tujuan untuk mengajak orang-orang baik untuk peduli dan ikut terlibat mengurusi bangsa ini. Semakin banyak orang-orang baik yang terlibat dalam kepengurusan negara, maka negara ini akan makin maju dan berkembang. Sebaliknya, jika orang-orang baik tidak peduli, niscaya negara akan diurus oleh orang-orang jahat. Alih-alih mengurus negara, mereka justru akan menguras kekayaan alam. Oleh karena itu, Gerakan TurunTangan ingin mengajak sebanyak mungkin orang-orang baik yang memiliki kompetensi dan integritas untuk jangan sungkan-sungkan terjun langsung dalam mengurus negara. Kata Anies Baswedan, “Kejahatan merajalela karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena orang-orang baik memilih diam dan mendiamkan.”

Penggeraknya siapa? Penggeraknya adalah kita semua, para  relawan yang jumlahnya saat ini sudah mencapai lebih dari 26 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai sosok yang menginisiasi gerakan ini, Anies Baswedan  adalah orang yang menginspirasi kita semua untuk bergerak. Selanjutnya, kitalah yang menggerakkan ajakan ini.

Artikel ini dimuat di Rakyat Merdeka Online edisi 13 Mei 2014.

Link: http://m.rmol.co/news.php?id=155069

30.05.14 05:58:49    http://www.kompasiana.com/chozin/gerakan-turuntangan-bersama-anies-baswedan_54f7225ba33311af688b45e7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like