Debat Capres III: Batik Jokowi dan Kedigdayaan Poros Maritim

 

Siapa sangka, Debat Cepres ke-3 (22/6) dengan topik pertahanan dan hubungan internasional justru menjadi panggung terbaik buat Jokowi. Betapa tidak, meski tidak memiliki latar belakang di bidang pertahanan dan internasional sekuat lawannya, Jokowi mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki konsep yang lebih komprehensif dan terukur.

Tadi sore, menjelang debat, terus terang sempat agak khawatir kalau-kalau debat kali ini akan menjadi ajang ‘pembantaian’ terhadap Jokowi. Pasalnya, topik soal pertahanan dan hubungan internasional sepertinya jauh banget dari latar belakang Jokowi. Sementara itu, lawannya, Prabowo memiliki background militer dan mengenyam pendidikan di luar negeri. Tidak hanya saya, banyak orang awalnya underestimateterhadap Jokowi soal tema tersebut. Namun seiring berjalannya sesi pertama debat, kekhawatiran tersebut tiba-tiba luruh dan berganti menjadi keyakinan akan kemampuan Jokowi. Salah seorang kawan mengirimkan pesan lewat whatsup kepadaku: “Walaupun temanya Prabowo banget tapi Jokowi mantap. Piye menurutmu? Menuruku, Jokowi dua kelas di atas Prabowo”. Tentu saja, aku langsung mengiyakan pernyataan tersebut. Jokowi tidak sebagaimana biasanya – yang seperti mesin diesel, lama panasnya – kali ini Jokowi langsung tancap gas memanaskan suasana debat dengan pernyataan-pernyataan yang bernas. Di awal, capres yang selalu digempur dengan black campaign anti-Islam tersebut langsung mengeluarkan pernyataan langsung menyentuh sentimen kelompok Islam politik: Jokowi mendukung sepenuhnya kemerdekaan Palestina. “Kami akan mendukung Palestina menjadi negara merdeka. Mendukung Palestina untuk masuk sebagai anggota penuh PBB,” ujar Jokowi menegaskan. Pernyataan ini sungguh sangat seksi. Kenapa? Isu Palestina biasanya hanya menjadi isu kelompok ‘politisi Islam’. Kali ini, Jokowi yang selalu dituduh anti-Islam, justru melemparkan isu tersebut dengan sangat lugas. Saya membayangkan, kelompok-kelompok yang selama ini membombardir Jokowi dengan isu anti-Islam, tiba-tiba mulutnya ter-nga-nga dan berhenti bernafas sejenak ketika mendengarkan pernyataan Jokowi tersebut. . Empat Prioritas Dibandingkan dengan lawannya yang terlalu generalis dan terkesan tidak fokus, penyampaian Jokowi terkait dengan isu hubungan internasional cukup jelas. Menurut Jokowi, dalam konteks hubungan internasional, maka ada empat hal yang harus diproritaskan. Pertama, yaitu perlindungan warga negara, termasuk menyangkut TKI. Kedua, perlindungan SDA. Ketiga, daya saing. Dan yang terakhir adalah keamanan regional kawasan dalam rangka menjaga ketertiban dunia. Jokowi menambahkan bahwa politik luar negeri harus didukung oleh ketahanan nasional yang kuat. Menurutnya, kesejahteraan prajurit, modernisasi alat-alat pertahanan (alutsista), dan modernisasi industri pertahanan adalah hal utama yang harus menjadi perhatian. Kesejahteraan prajurit dan modernisasi alusista hanya bisa dilakukan jika pertumbuhan ekonomi kita di atas 7 persen. Oleh karena itu, kuatnya pertahanan kita tidak mungkin dilepaskan dari kekuatan ekonomi nasional. Khusus terkait dengan modernisasi industri pertahanan, satu hal yang musti digarisbawahi, Jokowi menginginkan adanya industri pertahanan dalam negeri yang kuat. Jokowi menginkan alat-alat pertahanan kita diproduksi di dalam negeri sendiri, bukan impor. Dengan kata lain, perlu ada revitalisasi PT Pindad sebagai satu-satunya industru senjata dalam negeri. . Poros Negara MaritimMerespon lemparan pertanyaan mengenai peran strategis Indonesia di dunia internasional, Jokowi me-recall ingatan kita saat bangsa ini menjadi penggagas dan penyelenggara Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, 18-24 April 1955. Jokowi memimpikan kita kembali menjadi negara yang memiliki digniti di mata negara-negara lain dengan mengedepankan kekuatan maritimnya. Indonesia bisa menginisiasi kekuatan poros baru, yaitu poros negara-negara berbasis maritim. Menurut saya, ini adalah sebuah ide yang brilian. Ide ini memerlukan sambutan serius dari orang-orang yang konsen di bidang maritim. Bukankah selama ini, seagai negara yang 2/3 wilayahnya adalah laut, paradigma pembangunan justru berbasis kontinental (daratan)? So, dalam kepemimpinan Jokowi, kita akan diajak untuk mengembalikan paradigma pembangunan kita sesuai dengan karakter negara kita sebagai negara kepulauan.

Bicara soal pengembalian pada karakter, pada debat ketiga ini, Jokowi mengenakan pakaian yang berbeda dengan kedua debat sebelumnya. Dua debat sebelumnya, ia selalu mengenakan jas hitam. Menurut saya, jas hitam tidak sesuai dengan karakter Jokowi. Saya bukan orang yang ahli fashion, tetapi performanya yang cemerlang ada hubungannya dengan pakaian yang dikenakan. Batik adalah karakter Jokowi, bukan jas. Sederhana, menyatu dengan budaya asal. Saat mengenakan batik, Jokowi benar-benar merasa menjadi dirinya sendiri. Menurut saya, itu yang melejitkan konfidensinya! Kembali ke soal paradigma pembangunan berbasis maritim, mustinya, itu pula yang dilakukan terhadap bangsa ini. Kita perlu mengembalikan paradigma pembangunan sesuai dengan karakter nusantara, sebagai bangsa maritim. Wallahu’alam bisshawab.

23 Juni 2014 07:47:01     http://www.kompasiana.com/chozin/debat-capres-iii-batik-jokowi-dan-kedigdayaan-poros-maritim_54f6e73ea33311c55c8b4d1f

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like