Debat Capres I: 1-0 untuk Jokowi-JK

Tegang, was-was, deg-degan. Khawatir kalau-kalau sang idola keprucut mengeluarkan kata-kata yang salah atau minimal mbladrah. Itulah gambaran situasi kejiwaan para pendukung Jokowi saat menyaksikan debat pasangan capres-cawapres edisi pertama (Senin, 9 Juni 2014). Debat yang diselenggarakan di Balai Sarbini kawasan Semanggi Jakarta tersebut dipantengi oleh jutaan rakyat Indonesia. Sebagai penyelenggara debat, KPU memang sangat membatasi hanya ratusan yang bisa masuk ke dalam ruangan. Tetapi live broadcast oleh tv-tv swasta membuat acara tersebut bisa disaksikan oleh orang yang tinggal di manapun. Grup-grup relawan pendukung Capres Jokowi-JK menyelenggarakan acara nonton bareng debat. Tidak hanya di Jakarta, bahkan di daerah-daerah. Termasuk juga tim-tim pemenangan yang ter-komunitas dalam cluster-cluster. Di Ciasem misalnya, di markas tim juru bicara Anies Baswedan, suasana ‘tegang’ sangat terasa. Maklum, rata-rata aktivis relawan yang nongkrong di sini adalah mereka-mereka yang sangat paham media dan selama ini konsen dengan content-contentyang disampaikan oleh Jokowi. Mereka sangat khawatir, kejadian saat acara Deklarasi Pemilu Berintegritas dan Damai yang diselenggarakan di Bidakara waktu itu (3/6), terulang kembali. Waktu itu, oleh sebagian besar kalangan, performa Jokowi dianggap kurang memuaskan. Bahasa tubuhnya terlihat tidak rileks dan artikulasi kalimat-kalimat kurang menggigit. Kalah dibandingkan penampilan Prabowo yang waktu itu nampak sangat prima dan super confident. Skor yang diberikan oleh penonton waktu itu adalah 1:0 untuk pasangan Prabowo-Hatta. Tapi siapa sangka, malam tadi, Jokowi dan JK mampu membalikkan kondisi secara 180 derajat. Skor 1:0, bahkan 2:0 diperuntukkan bagi pasangan Jokowi-JK. Ketegangan mental yang nampak dari mimik muka para pendukung Jokowi saat-saat awal, tiba-tiba cair dan berubah menjadi tepukan dan teriakan-teriakan “yes yes yes!”. Persis seperti menonton sepakbola, emosi penonton larut dalam permainan dan terekspresi dalam dentuman-dentuman gerakan badan. Salah seorang kolega bahkan sempat merekam suasana di salah satu ruang tim pendukung Jokowi-JK dimana saat mendengar kata-kata dari Jokowi dan JK yang ‘mematikan’ loncat dari kursi dan berakting seperti sedang menendang bola, sambil berteriak “goooal”. Jokowi Pake Tai-Chi Jokowi memang cerdas secara alamiah. Tetapi kecerdasan khas Jawa. Kalau bicara pelan, tetapi pilihan kata-katanya ‘mandhes‘ menusuk ke jantung lawan. Debat memang seperti orang bertarung adu kedigdayaan, hanya saja senjata dan jurus yang digunakan adalah kata-kata serta racikan kalimat. Malam tadi, Jokowi sungguh sakti. Dia mempraktikan ajian khas Jawa, yang lebih dekat dengan jurus-jurus tai-chi dari Tiongkok. Konsep tai-chi adalah minim ofensif, tetapi menyerap energi lawan mengalahkannya. Saat ia bicara efisiensi biaya birokrasi dengan e-government, e-procurement, e-budgeting dan sebagainya, ia mampu mempesona lawan sehingga lawan kemudian secara eksplisit bilang “Iya, saya setuju dengan apa yang disampaikan Pak Jokowi”. Demikian juga ketika bicara soal keberagaman. Saat Jokowi mempertahankan posisi seorang lurah yang kebetulan berbeda agama dengan mayoritas penduduknya demi konstitusi, lawan justru mengiyakan dan bahkan memberikan contoh tambahan yang memperkuat argumentasi Jokowi. Lagi-lagi, strategi ‘tai-chi‘ brilian. Saya sempat berandai-andai: seandainya Jokowi meneruskan pernyataan dengan mangatakan “Oleh karena itu, bagi siapapun yang mau demokrasi berjalan dengan tegak, memiliki pemerintahan yang bersih dan ada kepastian hukum, maka pada pilpres 9 Juli nanti pilih nomor 2”; saya yakin pihak lawan akan mengatakan, “Saya setuju dengan apa yang disampaikan Pak Jokowi”. Huaaaa……bakalan bubar dech, Pilpresnya. Tak perlu lagi menunggu mencoblos bulan depan, presidennya sudah kepilih saat debat putaran pertama. Percaya tidak? Sebenarnya Jokowi sempat menyampaikan kalimat tersebut. Namun sayang, kalimat itu diucapkan di akhir debatnya, sehingga tidak ada kesempatan pihak lawan untuk memberikan respon. Dalam closing statement-nya Jokowi mengatakan: “Pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum yang utama; pemilihan presiden, pilih no. 2 !” Mari kita tunggu respon pihak lawan untuk meng-iyakan pesan Jokowi tersebut. JK: the Power of Question JK apalagi, kecerdasannya semakin teraktualkan dengan latar belakang kultur Bugis yang ia miliki. Orang Bugis biasanya outspoken, omongnya cepat keluar dan ceplas-ceplos. JK memang ceplas-ceplos, tapi ceplas-ceplosnya cespleng. Karakter outspoken-nya outstanding. Jurus ‘bertanya’ yang dilontarkannya – soal HAM – mampu memancing emosi lawan sehingga sempat menjadikannya lose control beberapa saat. Ibarat tinju, serbuan pertanyaan JK seperti pukulan upper cut, saat dilayangkan akan menyebabkan lawan terhuyung-huyung. Keadaan itu persis seperti yang dialami oleh pihak lawan, ia tiba-tiba menanggapi pertanyaan tersebut dengan kalimat-kalimat berintonasi tinggi dan namun tak stabil. Saking serunya menyaksikan adegan tersebut, semalam saya langsung meluapkannya emosi melalui twitter-ku, @chozin_ID: “Di #DebatCapres PS KO dgn pertanyaan HAM JK. Trprovokasi, emosional, bergetar suaranya. Bergetar tanda emosi tak datar”. Itulah JK, cerdas, lugas, dan penuh terobosan. Ingatan saya melambung pada saat beberapa tahun lalu pernah mengikuti kelas “JK Leadership” di Paramadina. Kelas terbatas itu diasuh langsung oleh Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan dan dihadiri oleh JK sebagai narasumber. Waktu itu sempat dibahas, salah satu kekuatan khas yang dimiliki oleh JK adalah “the power of question” (kekuatan pertanyaan). Sebagai public figure, JK tentu selalu ditanya soal banyak hal yang aneh-aneh dan kadang menjebak. Pada saat seperti itu, maka JK akan berbalik bertanya – dengan jenis pertanyaan yang tidak pernah disangka sebelumnya – kepada si penanya. Akibatnya si penanya mengalami sedikit ‘shocking‘ atas pertanyaan tersebut. Saat ‘shocking‘ itulah yang membuyarkan konsentrasi pihak penanya dan akhirnya lupa terhadap pertanyaan yang diajukannya sendiri. Jurus itu rupanya yang dipakai saat debat semalam. Sakti memang!

Mike Tyson kalahkan lawan dengan upper-cut
Mike Tyson kalahkan lawan dengan upper-cut

Secara umum, debat semalam memang top-markotop. Layak ditonton dan perlu! Dalam alam demokrasi Indonesia yang sedang tumbuh dan berkembang ini, kita perlu forum dan suasana seperti semalam. Terima kasih kepada KPU. Terima kasih kepada moderator Zainal Arifin Mochtar. Putra asli Mandar tersebut mampu membawakan acara debat dengan apik dan penuh kesantunan. Suasana itu yang selalu kita tunggu, adu gagasan dalam suasana keikhlasan. Benar kata Anies Baswedan,  “Lawan berdebat adalah teman dalam berfikir”, tentu dalam rangka membangun negeri tercinta ini. []

10.06.14 22:10:26    http://www.kompasiana.com/chozin/debat-capres-i-1-0-untuk-jokowi-jk_54f7023ea3331168218b4588

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like