Calon Alternatif itu Bernama Anies Baswedan

Sebuah artikel yang ditulis oleh peneliti Poltracking Institute Ahmad T Wibowo menarik untuk dibaca. Artikel berjudul “Mengalahkan Jokowi dan Prabowo, Bisakah?” tersebut dimuat di Jurnas.com edisi 7 Mei 2014 lalu.

Wibowo mengawali artikelnya dengan melemparkan satu pertanyaan, mungkinkah ada calon baru yang dalam masa dua bulan kampanye sanggup mengalahkan Prabowo dan Jokowi? Dan dengan tegas ia menjawab, SANGAT MUNGKIN! Bukan hanya mungkin, peluang menangnya juga besar.

Memang sampai opini publik seakan terkunci pada dua sosok capres, Prabowo dan Jokowi. Seakan-akan tertutup sudah peluang bagi capres ketiga untuk berlaga. Kita terpukau oleh situasi ‘hollow‘ yang diciptakan oleh media mainstream dan para kuli ‘media sosial’, yang mengarahkankan pada dua kutub itu. Tetapi bukankah sampai saat ini dua-duanya juga belum resmi (administratif) menjadi capres? Masih terbuka peluang lebar untuk mengusung calon ketiga. Biasanya, justru calon ketiga itulah yang akan jadi kuda putih, menjadi pemenangnya.

Alberto Fujimori, seorang keturunan Jepang di sebuah negara Amerika Latin bernama Peru, pernah menang melawan calon yang sangat populer pada pemilu presiden era awal tahun 90-an. Fujimori menang melawan Mario Vargas Llosa yang namanya selalu muncul di media. Ini adalah bukti bahwa kuda putih itu MUNGKIN!  Enam minggu sebelum pemilihan, elektabilitas Fujimori bahkan tidak sampai 1%. Tetapi siapa sangka, dalam waktu yang amat singkat ia mampu meroketkan elaktabilitasnya, mengejar dan bahkan melampau kandidat yang waktu sudah sangat populer dan jor-joran beriklan.

Demi optimisme tersebut, penulis Wibowo menyarankan agar jangan cari figur dengan semata-mata melihat angka elektabilitas, tetapi cari figur alternatif yang karakteristiknya unik dan memiliki potensi perubahan elektabilitas (delta) yang tinggi. Calon dengan elektabilitas tinggi tetapi trend angkanya sudah stagnan (atau bahkan cenderung menurun) justru akan sulit untuk ditingkatkan dalam waktu dua bulan kampanye. Sebaliknya, calon yang memiliki daya tarik khusus dan karakter unik justru jauh lebih berpotensi melonjak dan menang.

“Calon yang dimunculkan adalah figur yang tak diduga akan dicalonkan. Ia harus memiliki efek kejut yang dahsyat, yang bisa membelalakkan mata semua pihak. Ia menjadi simbolisasi Satrio Piningit yang disembunyikan sampai dengan menit-menit terakhir. Kejutan ini akan akan menjadi bahan pembicaraan positif di media dan di semua tempat, mulai dari meja makan keluarga, warung kopi, ibu-ibu pengajian, sampai dengan elit nasional dan bahkan dunia internasional,”, ungkap mahasiswa S-2 di Universitas Pertahanan tersebut.

Sejujurnya, partai-partai menengah sampai saat ini belum menentukan sikap. Wibowo mengistilahkan, mereka masih wait and see sambil melakukan psi-war di media. Sekali-kali mereka main mata dengan kedua kutub yang sedang gencar-gencarnya melakukan pendekatan untuk mewujudkan porosnya.

Diantara parpol-parpol yang akan lolos electoral treshold, hasil akhir penghitungan suara KPU menunjukkan perolehan suara sebagai berikut:

PDI-P 18,95%
Golkar 14,75%
Gerindra 11,81%
Demokrat 10,19%
PKB 9,04%
PAN 7,57%
PKS 6,79%
Nasdem 6,72%
PPP 6,53%, dan
Hanura 5,26%

Yang perlu digarisbawahi, ternyata perolehan suara Partai Demokrat (PD) tidak se-jeblok yang disinyalir oleh lembaga-lembaga survey. PD masih menempati urutan ke-4. Artinya, diantara partai-partai dengan perolehan suara menengah, PD masih bisa menjadi imam-nya. Apalagi, PD memiliki figur kuat SBY yang berpengalaman memimpin koalisi dan memimpin negeri ini selama 10 tahun.

Jika PD ingin mengambil kesempatan untuk mengkonsolidasikan partai-partai tengah, Wibowo menyarankan agar figur yang diakan ditawarkan oleh PD sebagai capres minimal memiliki syarat sebagai berikut:

  1. Orang baru.
    Dia harus orang baru yang bisa dipandang sebagai kontender Jokowi dan Prabowo yang juga menawarkan harapan baru. Generasi muda cenderung tidak kenal masa lalu Prabowo dan tak bertanya tentang rencana kerja Jokowi. Dengan kebaruannya yang menarik dan mempesona maka calon ini akan bisa menyedot pendukung Jokowi dan Prabowo.
  2. Mempesona di televisi.
    Waktu dua bulan tidak mungkin untuk kampanye berkeliling seluruh Indonesia. Untuk meraup dukungan seluruh pemilih di Indonesia dalam jangka waktu yang singkat, televisi adalah satu-satunya jalan. Oleh karena itu, calon yang dimunculkan haruslah mempesona ketika tampil di televisi. Dia harus memiliki tampilan yang menarik dan tutur-kata simpatik. Bukan hanya menarik dalam bahasa lisan, bahasa tubuhnya juga harus memikat dan mudah disukai oleh publik. Wibowo mengistilahkan karakter ini dengan istilah yang menarik, TV-genik.
  3. Mumpuni dan memiliki nilai pembeda.
    Calon ini harus menunjukkan ciri yang berbeda dengan Jokowi dan Prabowo. Baik latar belakang, penampilan, pemikiran bahkan ekspresinya harus memiliki nila berbeda dengan capres-capres yang selama ini sudah beredar. Indonesia bagian penting dari dunia karena itu calon ini harus bisa menunjukkan kompetensi kelas dunia tetapi memahami dan menjiwai Indonesia hingga ke akar rumputnya.
  4. Bersih & tanpa beban masa lalu.
    Calon yang dimunculkan diakui sebagai orang berintegritas tinggi. Capres tak boleh membawa beban masalah, utama-nya KKN atau masalah-masalah kebijakan atau masalah keluarga. Media juga akan menelusur ke masa lalu jika ada kebijakan bermasalah, KKN apalagi urusan keluarga; itu semua bisa jadi bahan kampanye negatif yang sulit ditangkis dalam dua bulan.
  5. Lengkap.
    Prabowo, memang rencana kerjanya “jelas”, tetapi track-recordnya sering dipertanyakan. Sementara Jokowi, memang memiliki integritas yang baik, tatapi rencana kerjanya tidak jelas. Calon yang baru ini haruslah komplit: memiliki integritas (track-record) yang diakui baik oleh publik dan memiliki rencana kerja yang jelas, yaitu melanjutkan kemajuan yang sudah diraih selama ini.
  6. Bersahabat.
    Calon yang dimunculkan harus memiliki ketegasan misi untuk mensejahterakan rakyat tetapi tetap dipandang calon yang bersahabat pada dunia usaha. Ia harus berkomitmen untuk kelanjutan demokrasi sehingga dukungan dari rakyat bawah, kelas menengah, dunia usaha dan bahkan dunia internasional bisa mengalir dengan baik.

Mengacu pada karakter-karakter di atas, kita bisa menilai nama-nama yang selama ini dipertimbangkan sebagai Bakal Calon Presiden. Elit partai harus bersedia menilai figur yang ada dengan kriteria di atas. Lalu mau legowo untuk mengusung figur baru yang menghebohkan karena partai bersedia mengusung orang baru, bersih, mumpuni, berprestasi, mempesona dan bisa membanggakan.

Pendapat saya, dari syarat-syarat yang diajukan oleh Wibowo di atas, ada satu nama yang bisa mewakili yaitu ANIES BASWEDAN. Saat ini, sosok ini barangkali belum terlalu tinggi popularitasnya. Jarang pula muncul di media, sebagaimana Prabowo dan Jokowi. Tapi sosok ini memiliki kebaruan, tv-genik, punya nilai beda, bebas dari beban masa lalu, lengkap dan bersahabat. Sosok ini saat ini sedang digandrungi kaum muda. Gerakan TurunTangan yang digagasnya mampu menggaet relawan sebanyak 26,000 orang dalam waktu kurang dari 6 bulan.

Bagaimana menurut Anda?

Penulis: M Chozin Amirullah, alumnus Ponpes Tebuireng Jombang dan Ohio University USA. Pendiri Suluh Nusantara.

1399810063798348
Semboyan relawan TurunTangan

11.05.14 02:41:50    http://www.kompasiana.com/chozin/calon-alternatif-itu-bernama-anies-baswedan_54f75c0fa3331145398b4603

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like