Anies mendengar

Saat diasingkan di Banda Neira, baik Hatta dan Syahrir punya satu kebiasaan. Mereka senang mengelilingi daerah pengasingannya. Hatta diceritakan pernah melukis kapal bersama anak-anak, Syahrir senang mengajar anak-anak di sana. Di sela aktivitasnya mereka senang mendengarkan keluhan warga.

Tak hanya Hatta dan Syahrir, dulu Soekarno dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pengasuh wanitanya, Sarinah. Pengasuh Soekarno itu kerap menceritakan banyak hal pada proklamator Indonesia tersebut. Soekarno senang mendengarkan cerita dan keluhan Sarinah dengan tekun. Bahkan, untuk mengapresiasi Sarinah, Bung Karno menamakan pusat perbelanjaan di daerah Sudirman dengan nama pengasuhnya.

Para pendiri Republik ini sebenarnya sedang mengirimkan pesan penting, mendengar. Aktivitas yang dilakukan oleh telinga kita tersebut memang terkesan mudah, namun nyatanya kita sering gagal melakukannya. Dari mendengar kita tahu ada banyak hal yang bisa dilakukan. Ada aspirasi yang menunggu untuk dijemput. Sementara dari bicara kita hanya sedang menyampaikan pikiran satu pihak.

Selama puluhan tahun pemerintah lebih sering bicara daripada mendengar. Mendengar hanya jadi kegiatan artifisial tanpa substansi. Pun ketika ada suara berseberangan hanya bisa dianggap jadi bagian yang lain bukan justru diajak bergandengan tangan.

Sekitar dua minggu lalu, lima orang siswa SMA 87 Rempoa berdiri di depan kelas. Bukan, bukan karena dihukum. Mereka berdiri untuk mempresentasikan keluhan dan masukan mereka untuk kurikulum 2013.

Adalah Ahmad Dhiya, Dinda Putri, Imaduddin Irza, Nadhif Rafifaiz, dan Parardhya Amaraputri lima murid SMA di pinggiran Jakarta yang berdiri dan memberikan masukan mengenai kurikulum 2013. Mereka tak berdandan, baju pramukanya sedikit lusuh karena kegiatan di hari tersebut, pun tak ada acara seremonial semacam pemukulan gong. Mereka hanya diberi waktu bicara layaknya sedang berbincang dengan teman.

Mas Menteri Anies Baswedan duduk di depan mereka. Sesekali ia melepas kacamatanya, matanya menatap lurus ke bahan presentasi murid tersebut. Di salah satu slide ia tersenyum ketika muncul meme bergambar dirinya dengan tulisan, “Yang saya harapkan dari orang ini adalah mengganti kurikulum 2013”.

Ahmad Dhiya dkk bukan ahli kurikulum namun apa yang mereka alami sehari-hari sangat cukup untuk memberi tahu bahwa ada yang tidak beres di kurikulum tersebut. Dinda beberapa kali menarik nafas untuk mengambil jeda dari pemaparannya. “Pelajaran kita banyak banget Pak, tapi kenapa kita kalah pintar sama anak-anak Singapura, Finlandia,” ujar Dinda di depan Mas Anies.

Mas Anies tak bicara di presentasi tersebut. Ia tak malu dihajar oleh beragam kritikan dari para murid SMA tersebut. “Saya akan bawa mereka ke forum yang lebih besar. Agar semua bisa mendengar apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap mengapresiasi.

 

Mas Menteri Anies Baswedan di SMA 87 Rempoa (12/11/2014)

Pada para wartawan ia kemudian bicara akan mereview kurikulum 2013. Ia tidak sedang menjual buaian manis pada para pencari berita. Beberapa hari setelah dihajar oleh para murid SMA, Mas Anies berkonsultasi dengan beberapa pengajar yang mengkritik keras Kurikulum 2013. Dua di antara mereka adalah Retno Listyarti dan Weilinhan. Keduanya dinilai vokal pada kurikulum 2013. Protes mereka menjadi gaung besar ketika program Mata Najwa menyiarkan edisi “Terkungkung Kurikulum”. Kedua tokoh pendidikan itu membabat habis kurikulum 2013 tanpa ampun di acara talkshow paling populer tersebut.

Link Youtube Retno dan Weilinhan di MataNajwa

Mas Anies menemui keduanya, tak malu untuk berkonsultasi mengenai review kurikulum 2013. Ia tak langsung mengambil keputusan, ia memilih mendengarkan.
Tak cukup di situ, Mas Anies membuka pintu bagi Indonesia Corruption Watch (ICW). Di ruang kementerian Ade Irawan, koordinator ICW bicara mengenai PR yang harus diselesaikan Mas Menteri Anies Baswedan. Isinya sangat kritis. Penghapusan UN, Penggantian kurikulum 2013, dan korupsi di kementerian. Mas Anies mendengarkan semua keluhan ICW yang hadir bersama organisasi masyarakat lainnya.

Di sela-sela itu ia juga bersilaturahmi ke SDN Sukmajaya 1, Depok. Beberapa guru duduk mengelilinginya, dengan membuat lingkaran kecil, Mas Anies meminta para guru memberikan penjelasan mengenai kurikulum 2013. Para guru tak sungkan untuk mengemukakan keluhan, begitu natural. Beberapa mengeluhkan penilaian yang memberatkan, beberapa menjelaskan kurikulum ini tidak jelas.

Setiap mendengar keluhan Mas Anies mencatatnya. Mas Anies menuliskan keluhan dan masukan tersebut dalam sebuah buku catatan berwarna biru dan sebuah pulpen hitam.

Pada semua aktivitas itu Mas Anies sebenarnya sedang mendengar. Ia menundukkan kepalanya, menurunkan egonya dan bertanya pada mereka yang bahkan dianggap bertentangan sebelumnya.

Pasca pulang dari Neira, baik Hatta dan Syahrir banyak melakukan refleksi. Refleksi itu menjadi penting untuk melahirkan Republik ini. Dari mendengar, mereka berdua tahu ke mana negeri ini akan dibawa.

Mas Anies mungkin sedang mengadaptasi Hatta pun Syahrir. Ia ingin mendengar dari mereka yang sehari-hari bergulat dengan kurikulum, bergulat dengan pendidikan. Ia tak sedang menunjuk untuk menuju sebuah tujuan. Ia sedang mengirimkan pesan, ada tujuan yang hendak kita capai bersama.

28 November 2014 01:53:16       http://www.kompasiana.com/chozin/mendengar_54f3c1877455137d2b6c7e8e

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like