Anies ke Jokowi-JK? Masuk Akal

Beberapa hari pasca penutupan Konvensi Partai Demokrat, Anies Baswedan langsung ‘dilamar’ oleh tim Jokowi-JK untuk bergabung. Tidak tanggung-tanggung, Anies Baswedan diminta untuk menjadi salah satu juru bicara tim pemenangan Jokowi-JK. Tersiarnya kabar tersebut, sempat membuat pro-kontra, baik di kalangan relawan yang tergabung dalam jamaah TurunTanganiyah (sebutan saya untuk relawan TurunTangan) maupun di kalangan media. Jikalah Anies Baswedan bukan mantan peserta Konvensi yang telah ‘menyetrum’ lebih dari 27 ribu relawannya, pro-kontra itu tentu tidak akan terjadi. Pro-kontra adalah pertanda, bahwa Anies Baswedan memang punya konstituen yang bukan hanya sekedar mendukung, tetapi juga menyayanginya.

Bagi yang pro, masuknya Anies Baswedan dalam tim kampanye Jokowi-JK adalah sebuah pilihan politik yang jitu. Pasca pertarungan di ajang Konvensi, ‘kartu’ Anies Baswedan tak boleh mati. Anies Baswedan harus tetap eksis dan berkembang dalam perpolitikan nasional, agar gagasan-gagasan segarnya bisa disemai melalui ladang yang lebih luas.

Bagi yang kontra, mereka menyayangkan kenapa musti bergabung dengan salah arus besar politik yang sedang bertarung? Mereka khawatir Anies Baswedan akan hanyut dalam pusaran arus besar tersebut sehingga kehilangan jati dirinya. Alih-alih memperjuangkan gagasan besar, ia malah bisa hanyut dan larut sehingga hilang bentuk diri. Kekhawatiran tersebut sebenarnya bisa dipahami sebagai ekspresi rasa sayang kepada sosok Anies Baswedan yang selama ini nyaris tanpa cacat.

Atas kekhawatiran tersebut, banyak yang menyarankan agar – jikalah Anies Baswedan tidak mendukung Prabowo – minimal ya, netral lah! Tapi bukankah dalam politik seseorang harus mengambil sikap?Jika Anies Baswedan netral, itu artinya ia tidak lagi berpolitik, ia kembali ke dunianya semula, dunia gerakan sosial yang sepi dari kontroversi. Bukankah mengambil sikap netral, sama artinya Anies Baswedan makmum sama SBY? Sikap politik SBY – bersama Demokratnya – netral bukan?

Soal pilihan Anies Baswedan ke Jokowi-JK, sebenarnya itu adalah pilihan yang sudah bisa kita baca sebelumnya. Pilihan tersebut konsisten dengan apa yang disampaikannya berulang-ulang mengenai ‘pilih orang-orang yang tidak bermasalah track-record-nya’. Kalimat tersebut selalu diulang-ulang oleh Anies Baswedan ketika memberikan wejangan kepada relawan TurunTangan menjelang Pemilu Legislatif bulan April lalu. Anies Baswedan selalu menyarankan agar relawannya memilih orang baik, tanpa memandang parpol yang mengusungnya.

Nah,…pilihan Anies Baswedan ke Jokowi-JK sebenarnya adalah pilihan yang konsisten. Tanpa memandang parpol pengusungnya, Jokowi dan JK adalah sosok-sosok yang track-recordnya jelas, tak bermasalah. Disamping itu, pada diri Jokowi terdapat unsur kebaruan. Kebaruan bukan hanya dalam usia, tetapi juga kesegaran untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Bagi Anies Baswedan, unsur kebaruan ini menjadi penting mengingat negeri ini selalu dipimpin oleh orang-orang lama yang gagasanya sudah ‘menthok‘. Diperlukan orang-orang baru, yang belum terkontaminasi dengan sistem lama sehingga memiliki keberanian untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam pemerintahan.

Terlepas dari alasan-alasan di atas, bergeraknya pendulum dukungan Anies Baswedan kepada pasangan Jokowi-JK sebenarnya juga didorong oleh adanya kesamaan ‘chemistry’ yang sudah terbangun sebelumnya. Tak usah disebut kedekatan Anies Baswedan dengan JK sebagai sesama cendekiawan Muslim hasil gemblengan HMI; Anies Baswedan dengan Jokowi juga sudah memiliki kedekatan ‘chemistry‘ sejak lama.

Ingat acara Mata Najwa Metro TV di UNS Solo, Sabtu (14/12/2013) lalu? Najwa Shihab mengundang tamu Abraham Samad, Jusuf Kalla, Jokowi, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Pada acara itu, Jokowi kerap memuji Anies Baswedan dan Anies Baswedan memuji Jokowi. Kabarnya, pagi sebelum acara keduanya sempat sarapan bareng di sebuah warung langganan Jokowi di Solo. Beberapa bulan sebelum PDIP memutuskan untuk mencapreskan Jokowi, Anies Baswedan adalah salah satu orang yang mendukung Jokowi agar dicapreskan oleh PDIP (baca detik.com, edisi 01/09/2014). Jadi, keputusan Anies Baswedan mendukung pasangan Jokowi-JK masuk akal bukan?

28 Mei 2014 08:24:05    http://www.kompasiana.com/chozin/anies-ke-jokowi-jk-masuk-akal_54f731e8a33311b06d8b473a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like